Dewasa ini, manusia dapat melakukan
aktivitas dengan mudah. Dari tahun ke tahun, teknologi digital pada era
revolusi industri 4.0 mengalami peningkatan fitur yang semakin canggih. Namun,
kecanggihan yang memudahkan manusia menyebabkan berkurangnya aktivitas fisik
dan makanan yang sehat. Pada akhirnya, epidemiologi masyarakat dunia mengalami
transisi yang ditandai dengan penurunan penyakit menular pada kalangan menengah
ke atas seiring dengan pengobatan yang semakin mumpuni dan lingkungan hidup
yang semakin terjaga. Namun, kebiasaan manusia yang sangat berbeda pada abad
ke-21 memberikan andil dalam meningkatnya penyakit yang tidak menular atau
disebut non communicable disease.
Penyakit tidak menular (PTM) merupakan penyakit yang sulit terdeteksi karena
tidak terdapat gejala pada penderitanya. Dari 57 juta kematian yang terjadi, 36
juta atau hampir dua pertiganya disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (PTM).
Proporsi PTM pada usia di bawah 70 tahun didominasi oleh penyakit
kardiovaskular (39 %), penyakit kanker (27 %), penyakit pernapasan dan
pencernaan kronis (30 %), dan penyakit diabetes mellitus (4 %)[1].
Di tambah lagi, negara-negara berkembang seperti Indonesia, China, dan India
mengalami bonus demografi sehingga masyarakat dengan usia di bawah 70 tahun
atau usia produktif perlu menyadari pentingnya pola hidup sehat. Hal ini
disebabkan oleh faktor risiko pengendalian penyakit tidak menular cenderung
pada faktor gaya hidup yang semakin modern dan faktor yang tidak dapat dicegah
seperti usia dan keturunan. Pada esai ini, penulis akan membahas mengenai
penyakit tidak menular yang banyak mendominasi masyarakat negara berpenghasilan
rendah hingga menengah, yaitu hipertensi yang menjadi bagian dari penyakit
kardiovaskular.
Hipertensi merupakan peningkatan tekanan
darah sistolik sekitar 160 mmHg atau lebih dan tekanan darah diastolik sekitar
95 mmHg atau lebih. WHO memperkirakan jumlah penderita hipertensi yang
meningkat berbanding lurus dengan jumlah penduduk dan jumlah kematian penduduk
yang meningkat. Bahkan, jumlah penderita hipertensi diproyeksikan sebanyak 29 %
penduduk dunia pada 2025.[2]
Secara demografis, sebanyak 35 % penduduk negara maju dan 40 % penduduk negara
berkembang mengalami hipertensi. Hipertensi membuka peluang 12 kali lebih besar
pada stroke, 6 kali lebih besar pada serangan jantung, dan 5 kali lebih besar
kemungkinan meninggal dunia akibat gagal jantung. Tidak hanya itu, hipertensi
juga merangsang terjadinya kerusakan otak, ginjal, dan mata. Perubahan dari
pola makan tradisional yang banyak mengandung karbohidrat dan serat ke pola
makan modern yang banyak mengandung protein, lemak, dan natrium memengaruhi
berat badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang semakin meningkat. Apabila
kebiasaan tersebut terus dilakukan tanpa adanya aktivitas fisik yang mengimbanginya,
penderita akan mengalami obesitas atau kegemukan. Obesitas sejalan dengan
peningkatan tekanan darah terutama sistolik dari normal pada usia tertentu.
Selain itu, kebiasaan lain yang sering terjadi pada laki-laki seperti merokok
dan meminum alkohol dapat meningkatkan tekanan darah yang lebih besar daripada
perempuan berdasarkan jenis kelamin. Oleh karena itu, penulis sebagai mahasiswa
mendukung pola hidup sehat masyarakat melalui program CERMAT. Program CERMAT
adalah program yang mampu menurunkan angka penderita penyakit tidak menular
khususnya hipertensi dengan empat langkah, yaitu Cek Kesehatan, Olahraga
Ringan, Makan Bergizi, dan Istirahat Cukup dalam suatu acara rutin.
Pola hidup sehat yang paling penting
adalah cek kesehatan. Pemeriksaan kesehatan atau Medical Check Up merupakan pemeriksaan sebagai upaya primer dan
sekunder dalam mengetahui faktor risiko khususnya hipertensi. Tekanan darah
dapat diukur dengan menggunakan sfignomanometer air raksa atau elektronik. Orang
yang memeriksa tekanan darah harus diposisikan dalam keadaan berbaring atau
duduk. Selain itu, orang tersebut harus berada dalam kondisi tenang. Hipertensi
dapat dideteksi pada orang tersebut jika tekanan darah sistolik dan diastolik
lebih tinggi dari normal sesuai usia. Pemeriksaan tekanan darah perlu dilakukan
setidaknya satu kali sebulan walaupun dalam keadaan sehat karena hipertensi
tidak memiliki gejala atau keluhan sebelumnya. Gaya hidup yang tidak sehat
seperti minum minuman beralkohol, kebiasaan merokok, dan makan makanan cepat
saji lebih cepat memicu hipertensi yang tidak diketahui oleh penderita. Jika
penduduk usia produktif tidak memeriksa tekanan darah sedini mungkin,
komplikasi penyakit semakin parah sehingga menambah biaya pengobatan. Apabila
penduduk usia produktif didominasi oleh kalangan menengah ke bawah, usia
harapan hidup akan berkurang. Terlebih lagi, penduduk yang memiliki faktor
keturunan menyebabkan peningkatan frekuensi pemeriksaan kesehatan diperlukan
agar mampu melakukan pola hidup sehat secara teratur. Pada program CERMAT,
penduduk usia produktif akan melakukan pengukuran tekanan darah secara gratis
dengan sosialisasi mengenai pola hidup sehat dalam menghindari hipertensi agar
masyarakat mampu berpartisipasi dalam kegiatan selanjutnya seperti olahraga
ringan, makan makanan bergizi, dan istirahat yang cukup. Pada minggu pertama,
pemeriksaan kesehatan akan diukur sebelum dan sesudah melakukan olahraga ringan
dan makan makanan bergizi untuk membuktikan bahwa tekanan darah kembali normal
apabila setiap orang melakukan pola hidup sehat.
Pola hidup sehat kedua yang menjadi
rangkaian dari program CERMAT adalah olahraga ringan. Olahraga ringan yang
paling minimal adalah berjalan kaki. Untuk penduduk usia produktif dengan
kesibukan kerja yang tinggi dapat memperbanyak berjalan kaki sekitar 3-3,5
kilometer menuju tempat kerja. Apabila mereka memiliki waktu luang, olahraga
ringan yang dapat dilakukan yaitu aktivitas aerobik seperti bersepeda, jogging, senam, dan berenang. Tingkat
keteraturan pada olahraga ringan yang ideal adalah 3-5 kali dalam seminggu
dengan waktu 30-60 menit. Dengan melakukan olahraga ringan secara teratur,
tekanan darah dapat menurun sekitar 10 mmHg untuk sistolik dan diastolik[3].
Selain itu, olahraga ringan membantu mengelola stres sehingga tidak disarankan
melakukan olehraga yang bersifat kompetitif. Namun, olahraga ringan tetap tidak
dapat langsung dilakukan tanpa adanya pengukuran tekanan darah sebelumnya.
Penduduk usia produktif harus mengontrol tekanan darah baik dengan obat (jika
hipertensinya tergolong berat untuk mencegah kerusakan organ lainnya) atau
tanpa obat (jika hipertensinya tergolong ringan). Apabila penduduk usia
produktif tersebut sudah mendekati 64 tahun, diperlukan pengukuran detak
jantung terlebih dahulu karena mereka lebih rentan untuk hipertensi yang
menyebabkan jantung koroner. Pada program CERMAT, olahraga ringan yang
diterapkan adalah senam karena memiliki teknik pemanasan dan pendinginan yang
mampu mengontrol tekanan darah sehingga tidak sesak dengan oksigen yang
menghalangi jalannya peredaran darah. Selain itu, senam dapat dilakukan melalui
pergerakan hampir seluruh bagian tubuh, seperti tangan, kaki, dan pinggul
dengan hitungan sesuai zona latihan sebanyak delapan kali dan diakhiri dengan
memeriksa denyut nadi dan beristirahat selama 10 menit sebelum makan.
Pola hidup sehat ketiga adalah makan
makanan bergizi. Cukup jarang orang makan makanan dengan komposisi seimbang
karena kesibukan aktivitas yang tinggi. Mereka lebih sering makan makanan cepat
saji tanpa mengetahui kandungan yang berpotensi hipertensi. Umumnya, makanan
cepat saji banyak mengandung minyak goreng yang digunakan berulang-ulang. Padahal,
prinsip pola makan yang baik terdiri atas makanan beragam dan mengandung gizi
seimbang, mengandung jenis dan komposisi sesuai kondisi penderita, dan jumlah
garam yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan penderita. Untuk menurunkan
tekanan darah pada keadaan normal, penduduk usia produktif perlu beralih dari
makanan yang mengandung garam dan natrium tinggi ke makanan yang mengandung
serat dan kalium tinggi misalnya membeli jus buah dan memperbanyak sayuran
setiap kali makan. Cara mengurangi asupan garam dalam tubuh yaitu tekanan darah
140-160 mmHg dengan ½ sendok teh, 160-180 mmHg dengan ¼ sendok teh, lebih dari
180 mmHg tidak boleh mengonsumsi garam[4].
Serat yang berasal dari buah dan sayur dapat menahan asupan natrium. Konsumsi
sekitar 7 gram serat per hari mampu menurunkan tekanan darah sistolik sebanyak
5 mmHg[5].
Tidak hanya menjaga pola makan, penduduk usia produktif harus menghentikan
kebiasaan buruk seperti tidak mengonsumsi mineral berlebihan terutama dari
suplemen jika tidak membutuhkan serta tidak mengonsumsi rokok dan minuman
beralkohol karena dapat membebani kerja jantung yang mengakibatkan hipertensi.
Pada program CERMAT, kegiatan makan bergizi dilakukan setelah melakukan senam.
Senam aerobik dapat membakar banyak kalori dalam tubuh. Dengan begitu, asupan
kalori harus tetap seimbang melalui makanan yang bergizi. Makanan pada program
CERMAT akan disesuaikan dengan penderita hipertensi seperti disediakan lebih
banyak makanan mengandung serat seperti buah dan sayur dalam bentuk salad, jus
buah, dan yogurt. Menurut literatur, konsumsi masyarakat Indonesia akan buah
dan sayur berada di bawah komposisi yang dianjurkan, yaitu 150-200 gram. Hal ini
disebabkan oleh pengetahuan yang kurang mendalam mengenai buah dan sayur yang
perlu dimakan sesuai kondisi penderita dan keterbatasan buah dan sayur yang
terdapat di pasaran. Oleh karena itu, kegiatan makan bergizi ini juga diselingi
dengan sosialisasi mengenai manfaat buah dan sayur sesuai warnanya.
Pola hidup sehat terakhir yang tidak
kalah pentingnya adalah istirahat yang cukup. Istirahat yang cukup mampu
mengurangi stres yang memicu hipertensi. Stres terbagi menjadi dua, yaitu stres
negatif dan stres positif. Stres negatif terjadi pada keadaan yang mengganggu
fisik dan psikis seperti kehilangan seseorang yang dicintai, bencana alam, dan
sakit. Sedangkan, stres positif terjadi pada keadaan yang tidak mengganggu
fisik dan psikis saat terjadi suatu perubahan kondisi seperti kenaikan pangkat
dan menikah yang berarti berubah tanggung jawab individu tersebut. Berdasarkan literatur,
kejadian negatif sering menyebabkan stres yang memicu hipertensi yang tidak
diketahui penyebab utamanya. Namun, gejala yang sering timbul pada penderita
antara lain sakit kepala, telinga berdengung, susah tidur, mata
berkunang-kunang, rasa berat di tengkuk, dan kelelahan. Sedangkan, penderita
yang mengalami hipertensi juga dapat ditandai secara psikis, seperti kurang
bersemangat, penerimaan diri rendah, merasa tidak berguna, dan depresi[6].
Pada usia produktif, masalah pekerjaan dan masalah keluarga mendominasi
terjadinya hipertensi sehingga diperlukan teknik relaksasi otot. Relaksasi
adalah melemaskan otot-otot untuk mengurangi tegangan yang menyebabkan tekanan
darah meningkat ke otak yang mengganggu fungsi sistem saraf dan berakhir pada
penyakit stroke. Pelemasan otot-otot juga dilakukan seiring dengan pernapasan
untuk memberikan asupan oksigen dengan optimal setelah beraktivitas. Orang yang
melakukan relaksasi akan berimajinasi terhadap apa yang sudah ditangkap oleh
panca indera sehingga menimbulkan rasa tenang. Rasa tenang yang didapat oleh
orang yang melakukan relaksasi akan menghilangkan gejala-gejala hipertensi dan
merasa semangat dalam menjalani aktivitasnya kembali. Pada program CERMAT,
istirahat yang cukup penting dilakukan setelah makan makanan bergizi untuk
membiarkan makanan diserap oleh tubuh menjadi cadangan energi.
Berdasarkan rangkaian program CERMAT di
atas, pola hidup sehat tidak dapat dilakukan tanpa adanya dorongan dari
lingkungan terdekat. Oleh karena itu, penduduk usia produktif perlu peduli
terhadap penyakit tidak menular khususnya hipertensi karena dapat mengakibatkan
penyakit-penyakit lainnya yang mematikan seperti gagal ginjal, jantung koroner,
dan stroke. Sebagai mahasiswa, penulis dapat mengajak program CERMAT dengan
sasaran utama yang terdiri atas kelompok pekerja dengan usia produktif sekitar
15-64 tahun karena kesibukan yang tinggi seringkali tidak diiringi dengan
status kesehatan yang tinggi. Penulis menegaskan bahwa sosialisasi terhadap
mereka penting untuk menanamkan rasa ingin tahu sehingga sadar untuk mengubah
kebiasaan yang tidak baik bagi tubuh melalui empat hal yang dilakukan secara
terjadwal, yaitu pemeriksaan kesehatan, berolahraga ringan, makan makanan
bergizi, dan istirahat yang cukup. Program CERMAT hanya sebagai langkah awal
untuk menanamkan pola hidup sehat sedini mungkin untuk memperpanjang usia
harapan hidup mereka.
DAFTAR PUSTAKA
Anies. 2006. Waspada Ancaman Penyakit Tidak Menular :
Solusi Pencegahan dari Aspek Perilaku & Lingkungan. Jakarta : PT Elex
Media Komputindo
Kowalski, Robert
E. 2010. Terapi Hipertensi : Program 8
Minggu Menurunkan Tekanan Darah Tinggi dan Mengurangi Risiko Serangan Jantung
dan Stroke secara Alami. Bandung : Qanita
Aruben, Ronny,
Meilina dan Nugraheni. 2008. Pengendalian Faktor Determinan Sebagai Upaya
Penatalaksanaan Hipertensi di Tingkat Puskesmas. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 11(4) : 185-191
Fuadah, Dina
Zakiyyatul dan Naning Furi Rahayu. 2018. Pemanfaatan Pos Pembinaan Terpadu
(Posbindu) Penyakit Tidak Menular (PTM) pada Penderita Hipertensi. Jurnal Ners dan Kebidanan. 5(1) : 20-28
Nur, Nabilah
Nida dan Efrida Warganegara. 2016. Faktor Risiko Perilaku Penyakit Tidak
Menular. Jurnal Kedokteran. 5(2) :
88-94
Handayani, Eka
Wuri, dkk. 2018. Cek Kesehatan dan Konseling dalam Upaya Pencegahan Penyakit
Hipertensi, DM, dan GOUT pada Peserta Sepeda Sehat di Alun Alun Karanganyar
Kebumen. Artikel The 7th
University Research Colloqium STIKES PKU Muhammadiyah Surakarta : 236-240
Pane, Bessy S.
2015. Peranan Olahraga dalam Meningkatkan Kesehatan. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat. 21 (79) : 1-4
Prasetyo, Yudik.
2007. Olahraga bagi Penderita Hipertensi. Jurnal
Medikora. 3(1) : 1-17
Dalimartha,
Setiawan dan Hembing Wijayakusuma. 2009. Ramuan
Tradisional untuk Pengobatan Darah Tinggi. Jakarta : Niaga Swadaya
Tim Redaksi
Vitahealth. 2006. Hipertensi. Jakarta
: PT Gramedia Pustaka Utama
Lingga, Lanny.
2012. Bebas Hipertensi Tanpa Obat. Jakarta
: PT AgroMedia Pustaka
Ismanto, Iksan.
2013. “Hubungan Olahraga terhadap Tekanan Darah Penderita Hipertensi Rawat
Jalan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta.” Naskah Publikasi. Universitas Muhammadiyah Surakarta
Nurhayati,
Syarifah dan W.H. Cahyati. 2016. Hubungan Antara Status Medical Check Up
terhadap Kejadian Disabilitas Fisik pada Lansia di Kecamatan Punung Kabupaten
Pacitan. Unnes Journal of Public Health.
5(1) : 84-89
Dewi, A. B. F.
Kurnia. 2009. Menu Sehat 30 Hari untuk
Hiperkolesterol, Hipertensi, dan Penyakit Jantung. Jakarta : PT AgroMedia
Pustaka
Nisa, Nahla
Jovial. 2014. “Diet Hipertensi untuk Mengontrol Tekanan Darah pada Lansia
dengan Hipertensi.” Karya Ilmiah Akhir
Ners. Universitas Indonesia
Sari, Hanna
Fatma dan Murtini. Tidak teridentifikasi. Relaksasi untuk Mengurangi Stres pada
Penderita Hipertensi Esensial. Jurnal
Humanitas. 12(1) : 12-28
Komentar
Posting Komentar