Nanooral, Si Kecil Penyelamat Pasien Modern


Perkembangan teknologi pada abad ke-21 terus menunjukkan kemajuan di berbagai sektor kehidupan. Apabila pada revolusi industri sebelumnya hanya berupa penemuan, revolusi industri sekarang ini bertumpu pada keefektifan waktu dalam menghasilkan barang atau jasa dengan pemanfaatan internet. Kehidupan manusia kini tidak dapat terlepas dari internet sehingga internet perlu berkontribusi dalam mewujudkan produk yang memberikan nilai tambah bagi pengguna, khususnya pada bidang farmasi. Terkadang, ketergantungan manusia pada smartphone mengurangi waktu olahraga. Menurut Suryanto (2000), olahraga merupakan setiap kegiatan yang dilakukan untuk melatih tubuh manusia sehingga tubuh terasa lebih sehat dan kuat, baik secara jasmaniah maupun secara rohaniah. Tubuh yang tidak pernah dilatih akan menyebabkan penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi. Kedua penyakit utama yang tidak terkendali dapat menyebabkan kanker. Kanker merupakan pertumbuhan sel yang tidak terkendali sehingga mempengaruhi kerusakan jaringan. Oleh karena itu, obat antikanker diperlukan dalam melakukan regenerasi sel. Kenyataannya, obat yang beredar memiliki ukuran yang cukup besar sehingga metabolisme obat terlalu cepat, distribusi obat tidak sesuai, dan adanya efek pada jaringan yang normal. Hal ini berkorelasi dengan farmakokinetika waktu perjalanan obat dalam sistem tubuh, khususnya sistem peredaran darah sebagai tempat penghantaran obat sehingga muncul istilah “bioavailabilitas” dimana obat yang akan berinteraksi dengan target jaringan harus diserap oleh darah dalam bentuk globul yang lebih kecil daripada obat dalam bentuk partikulat utuh. Untuk meningkatkan bioavailabilitas obat melebihi 50 % hingga mencapai target jaringan, ukuran obat dengan pemberian oral perlu diperkecil hingga ukuran nano serta kelarutannya ditingkatkan dengan cara mengurangi eksipien yang tidak diperlukan. Faktor yang dapat memengaruhi bioavailabilitas obat antara lain kelarutan dalam air, permeabilitas obat, tingkat disolusi, dan metabolisme jalur pertama (Vieth et al., 2004; Wenlock et al., 2003).
Banyaknya zat kimia yang berhasil digunakan dalam pembuatan produk yang bernilai tambah menyebabkan ukuran nanometer dikaji oleh para ahli. Namun, semakin kecilnya suatu partikel yang digunakan dalam membuat produk menyebabkan tangan manusia tidak mampu membuatnya karena ukurannya yang tidak dapat dilihat dengan mata. Untuk membayangkannya, partikel bumi dibandingkan dengan partikel sepak bola yang memiliki bentuk yang sama. Apabila bumi memiliki ukuran 1 meter, maka sepak bola dapat diperkirakan dengan ukuran 1 nanometer. Satu nanometer setara dengan 10-9 meter. Jika hukum Newton dan relativistik dapat memberikan pembahasan pada partikel bersatuan meter, partikel yang berukuran nanometer ini perlu dibahas secara mekanika kuantum. Oleh karena itu, revolusi industri 4.0 di abad ke-21 ini mampu menjawab setiap permasalahan manusia dengan sudut pandang teknologi. Ilmuwan Jepang bernama Norio Taniguchi (1912-1999) memberikan nama nanoteknologi yang digunakan pertama kali dalam memproduksi objek dan fitur dalam ukuran nanometer. Teknologi nano pada pembuatan obat adalah suatu teknologi dimana partikel obat dibuat dalam skala nano, yaitu 10 nm – 1000 nm (Arif, 2017). Inisiasi adanya nanopartikel pada pembuatan obat beranjak dari efek samping yang dihasilkan dari obat kanker terhadap sel lain selain sel tumor. Tantangan yang terdapat pada efek samping tersebut adalah ketersebaran dosis yang diberikan. Dosis obat memengaruhi tingkat pelepasan zat aktif.  Oleh karena itu, para peneliti mengusahakan adanya modifikasi pembawa zat aktif sehingga dosis tersebut dapat dihantarkan secara terkontrol dengan mempertimbangkan adanya ligan spesifik. Nanooral atau disebut sebagai nanoteknologi obat oral  mampu diaplikasikan pada tahun 2030 karena memiliki beberapa manfaat, yaitu meningkatkan sifat kelarutan obat oral pada berbagai lapisan biologis, memperbaiki stabilitas obat pada transportasi dan penyimpanan, dan menekan efek toksik suatu obat pada dosis terapi.
Manfaat pertama dari nanoteknologi yang diaplikasikan pada pembuatan obat oral adalah meningkatkan sifat kelarutan obat. Penyebab paling umum dari bioavailabilitas oral dikaitkan dengan kelarutan yang buruk dan permeabilitas rendah (Vieth et al., 2004). Kelarutan obat berbanding lurus dengan ukuran molekul obat. Ukuran molekul yang diperkecil akan meningkatkan kelarutan obat karena medium (pelarut) semakin mudah berkontak dengan zat aktif. Luas zat aktif yang bersifat organik bercabang akan semakin bertambah sehingga bioavailabilitas akan semakin meningkat. Dengan begitu, biaya yang dibutuhkan untuk membuat eksipien tambahan akan semakin sedikit. Hasil dari pengecilan ukuran molekul pada tempat absorbsi adalah waktu yang semakin lama pada obat untuk terjerap, misalnya pada mukosa usus (Dewandari, et al., 2013). Tidak hanya pada proses absorbsi, proses permeasi pada obat yang kurang larut dalam air akan lebih cepat jika dibantu oleh ukuran molekul yang lebih kecil karena permukaan lapisan permeasi yang dominan bersifat nonpolar. Cara pengecilan ukuran molekul yang dilakukan saat ini terdiri atas milling dan cryomilling. Proses milling sering dilakukan pada obat yang praktis tidak larut dalam air (<10 mikrogram/mililiter). Proses ini juga tidak berlaku untuk obat yang sensitif terhadap suhu dan guncangan, obat dengan suhu lebur yang rendah serta termoplastik. Hal tersebut dapat digantikan dengan proses cryomilling. Ukuran nanopartikel pada obat dapat meningkatkan kualitas proses yang digunakan saat ini untuk meningkatkan bioavailabilitas obat.
Manfaat kedua dari nanoteknologi obat oral adalah memperbaiki stabilitas obat. Obat dalam bentuk nanopartikel tidak hanya sekadar pengecilan ukuran molekul, tetapi juga memodifikasi parameter-parameter yang berhubungan dengan stabilitas nanopartikel seperti agregasi, komposisi, kristalinitas, bentuk, ukuran, dan permukaan kimia. Modifikasi tersebut disesuaikan dengan proses transportasi dalam sistem peredaran darah dan penyimpanan di lingkungan sehingga mencapai keamanan, efikasi, dan kualitas obat. Stabilitas yang bertujuan dalam mengontrol proses transportasi obat dapat ditentukan oleh zeta potensial. Zeta potensial adalah muatan pada permukaan partikel yang dapat mempengaruhi kestabilan partikel di dalam larutan dengan gaya elektrostatik diantara partikel atau dapat dikatakan merupakan ukuran kekuatan tolak menolak antar partikel (Qi et al. 2004). Zeta potensial yang semakin besar melebihi 30 mV pada dosis obat oral akan mengurangi kejadian agregasi yang memperbesar ukuran molekul. Sedangkan, stabilitas yang bertujuan dalam memperpanjang umur simpan dapat diuji berdasarkan jenis ligan yang digunakan. Secara garis besar, nanopartikel dapat dibagi menjadi dua, yaitu nanopartikel yaitu nanopartikel polimer (polymeric nanoparticle) dan nanopartikel lemak padat (solid lipid nanoparticle). Nanopartikel polimer bersifat biodegradable oleh tubuh sehingga mempercepat pelepasan zat aktif pada pemberian oral, sedangkan nanopartikel lemak padat ditujukan untuk pemberian topikal. Salah satu contoh nanopartikel polimer adalah kitosan. Kitosan dapat digunakan dalam formulasi nanopartikel berbagai molekul, baik obat maupun gen (Bowman dan Leong, 2006). Menurut beberapa penelitian, kitosan mampu mengubah kekuatan ionik pada berbagai pH. Pada pH basa, nanopartikel kitosan akan mudah rusak daripada pH asam.
Manfaat terakhir dari nanoteknologi obat oral adalah menekan efek toksik suatu obat pada dosis terapi. Pengecilan ukuran molekul dapat memperkecil dosis yang dibutuhkan tetapi mampu untuk meningkatkan efikasi pada pasien. Contoh obat yang sudah disetujui oleh FDA (Food And Drug Administration) adalah antikanker berupa doksil dan abraksan yang bekerja dalam memberikan efek samping dengan meningkatkan akumulasi obat langsung pada jaringan target. Doksil merupakan doksorubisin dengan ukuran nanopartikel jenis liposom. Ukuran molekul doksil dalam satuan nano lebih cepat bergerak tanpa hambatan pada pembuluh darah kanker hingga sawar darah otak maupun batas batas biologis tubuh daripada doksorubisin bebas karena adanya peningkatan efek permeabilitas dan retensi pada permukaan lemak (nonpolar). Pada akhirnya, deposisi nanopartikel pada jaringan tumor dapat mengurangi kardiotoksisitas. Namun, cara tersebut tidak dapat mengurangi efek samping dari obat apabila tidak diiringi dengan matriks pembawa obat yang sesuai. Matriks penghantar klasik yang masih banyak digunakan adalah matriks yang digunakan sebagai terapi hidrofobik berupa pelarut beracun, contohnya adalah paklitaksel dan dosetaksel, yang diberikan dengan minyak jarak polyethoxylated (Cremophor EL) dan campuran etanol dehidrasi, dan masing-masing polisorbat 80 (Tween 80). Antihistamin dan kortikosteroid dibutuhkan untuk mengurangi efek samping tersebut. Mekanisme lain dalam menekan efek toksik pada dosis terapi adalah ligan spesifik seperti protein pada abraksan, yaitu paklitaksel yang terikat protein untuk mengobati kanker payudara. Peningkatan profil biodistribusi zat aktif obat kanker di masa depan menjadi penting untuk mempercepat penyembuhan kanker.
Ketiga hal tersebut menyebabkan nanoteknologi menjadi teknik yang penting untuk dikaji karena dapat meningkatkan keselamatan pasien abad ke-21 yang mengarah pada penyakit kanker dan penyakit tidak menular. Di sisi lain, efek toksisitas dari nanopartikel perlu diperhatikan karena menyangkut modifikasi sifat dan karakteristik obat oral. Saat ini, penelitian mengenai nanoteknologi pada obat oral gencar dilakukan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Beberapa tantangan harus dilalui agar Indonesia mampu mengaplikasikan nanoteknologi dalam pembuatan obat oral, yaitu sinergi perguruan tinggi, kerjasama dengan pihak bisnis dan pemerintah harus terjalin dengan baik dan saling menguntungkan, penyusunan pedoman maupun standar uji dalam menilai mutu suatu obat teknologi nano, adanya informasi dan database tentang hasil riset dan produk-produk teknologi nano dari institusi riset dalam negeri. Saat ini, perguruan tinggi di Indonesia banyak memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk meneliti di laboratorium sesuai arah pembangunan yang dicanangkan pemerintah dalam rencana jangka panjang (2010-2024). Beberapa universitas sudah terdapat pusat penelitian khusus Nanoteknologi seperti ITB, ITS, dan Unpad. Hal ini berefek pada penemuan-penemuan yang berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya standar uji keamanan. Ketimpangan parameter nanoteknologi tidak akan terjadi apabila setiap perguruan tinggi dapat berkolaborasi dalam riset bersama khususnya pada pembuatan obat baik pemberian oral, parenteral, hingga inhalasi. Tampaknya, jurusan Farmasi harus berkolaborasi dengan jurusan Fisika dalam pembuatan nanopartikel obat oral. Hal ini akan mempengaruhi riset yang terjadi di berbagai lembaga seperti LIPI, Batan, BPPT, Lapan, MRC Indonesia, dan lain-lain dalam menghasilkan informasi dan database. Indonesia hanya menunggu beberapa tahun lagi untuk meningkatkan anggaran riset untuk menutupi biaya aplikasi produk obat pada ranah pabrik, pembangunan fasilitas penelitian nanoteknologi terintegrasi, dan jumlah tenaga kerja yang mampu diajak berkolaborasi dalam memajukan nanoteknologi khususnya pada bidang farmasi.

Referensi :
Ariningsih, Ening. 2016. “Prospek Penerapan Teknologi Nano dalam Pertanian dan Pengolahan Pangan di Indonesia”. Forum Penelitian Agro Ekonomi. 34 (1) : 1-20
Dara, Alicia Ima dan Patihul Husni. Tidak diketahui. “Artikel Tinjauan : Teknik Meningkatkan Kelarutan Obat”. Jurnal Farmaka. 15 (4) : 49-57
Dewandari, Kun Tanti. 2013. “Sintests Nanopartikel Ekstrak Sirih Merah (Piper crocatum) dan Kajian Sistem Pengantarannya”. Tesis. Program Studi Ilmu Pangan Institut Pertanian Bogor
Hanutami, Berlian dan Arif Budiman. Tidak diketahui. “Review Artikel : Penggunaan Teknologi Nano Pada Formulasi Obat Herbal”. Jurnal Suplemen Farmaka. 15 (2) : 29-41
Ibrahim, Adzikra. Tidak diketahui. Pengertian Olahraga Menurut Pendapat Para Ahli. Dilihat 16 Januari 2020 dari https://pengertiandefinisi.com/pengertian-olahraga-menurut-pendapat-para-ahli/
Inggriani, Astri Sherly dan Patihul Husni. Tidak diketahui. “Artikel Review : Formulasi Nanopartikel Untuk Terapi Kanker”. Jurnal Suplemen Farmaka. 14 (1) : 127-135
Parikh, Dilip M. 2010. Handbook of Pharmaceutical Granulation Technology 3rd edition. Florida : CRC Press
Phan, Hoa T. dan Amanda J. Haes. 2019. “Feature Article : What Does Nanoparticle Stability Mean?” J. Phys. Chem. C. 123 (27) : 16495-16507
Purba, Febriani. Tidak diketahui. Aplikasi Nanoteknologi pada Pangan Fungsional dan Obat: Review. Dilihat 16 Januari 2020 dari https://www.academia.edu/32297224/Aplikasi_Nanoteknologi_pada_Pangan_Fungsional_dan_Obat_Review
Savitry, Putri Eka dan Nasrul Wathoni. 2018. “Artikel Tinjauan : Karakterisasi Efisiensi Penjerapan pada Nanopartikel Natrium Diklofenak dalam Sediaan Topikal”. Jurnal Suplemen Farmaka. 16 (2) : 493-507
TryNano Organization. Tidak diketahui. History of Nanotechnology. Dilihat 16 Januari 2020 dari http://www.trynano.org/about/history-nanotechnology
Winarti, Lina. 2011. “Review Artikel : Penggunaan Formulasi Nanopartikel Kitosan Sebagai Sistem Penghantaran Gen Non Viral Untuk Terapi Gen”. Jurnal Stomatognatic (J.K.G Unej). 8 (3) : 142-150
Wolfram, Joy et al. 2015. “Safety of nanoparticles in medicine”. Jurnal Curr Drug Targets PMC. 16 (14) : 1671–1681

Komentar