Assalamu'alaikum wr.wb
Apa yang ada dibenakmu setelah melihat gambar ini? Apakah kamu ingin jujur-jujuran mengenai lingkungan sekitarmu? Pasti di banyak negara, kamu tidak akan menemukan kehidupan ini (sulit) karena kamu tujuannya kan kalau ke luar negeri pasti mencari kesenangan saja kan? hayo, ngaku. Apalagi media tidak pernah memberitakan hal buruk mengenai kehidupan negara lain (kecuali yang memang dominan dan viral). Dengan membaca ini, Insya Allah bermanfaat untuk diri kalian semua termasuk saya.
Kesenjangan sosial adalah suatu
keadaan ketidakseimbangan sosial yang ada di masyarakat yaitu antara orang kaya
dan orang miskin yang menjadikan suatu perbedaan yang sangat mencolok akibat
dari distribusi keadilan dan kesejahteraan yang tidak merata. Kesenjangan
sosial sering dijumpai di negara berkembang seperti Indonesia, China, Brazil,
dll. Di saat orang kaya bisa menikmati hotel berbintang, makanan lezat, hingga
tempat tidur empuk, orang miskin pun berbanding terbalik. Mulai dari gubuk di
tengah kota, makanan seadanya, hingga tempat tidur kayu yang sudah lapuk. Orang
kaya sering diibaratkan sebagai orang kota dan orang miskin sering diibaratkan
sebagai orang desa. Mindset masyarakat tersebut terus dibiarkan hingga sekarang
ini orang bisa berkata “Yang kaya semakin kaya, Yang miskin semakin miskin”.
Orang kaya bisa menikmati kendaraan pribadi, sedangkan orang miskin hanya bisa
berjalan kaki. Tidak ada kepedulian orang kaya untuk orang miskin. Begitu kontras kehidupan keduanya yang
menjadi tugas pemerintah dalam jangka panjang.
Faktor utama dari kesenjangan sosial
adalah faktor ekonomi, faktor sosial, faktor politik dan hukum. Salah satu
contoh faktor ekonomi yaitu kemiskinan. Negara yang berkembang pada dasarnya
memiliki laju pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi. Kemiskinan dapat
berarti ketidakberdayaan, kelemahan fisik, dan merasa terasingi. Kemiskinan
dapat dijumpai di sudut-sudut kota yang bersebelahan dengan bangunan komersial.
Contohnya saat anak-anak dari golongan menengah ke atas bisa membeli tas
branded, perhiasan, hingga make up. Sedangkan anak-anak lain dari golongan
menengah ke bawah tidak mempunyai uang yang cukup untuk membelinya. Penampilan
anak-anak dari kalangan miskin juga hanya seadanya.
Faktor sosial dan budaya juga
berpengaruh dalam kesenjangan sosial. Masyarakat terbagi-bagi menurut sistem
kasta. Hal ini banyak ditemukan di kehidupan sehari-hari, misalnya kedudukan
antara majikan dan pembantu, pegawai kantoran dan pemulung, sarjana dan anak
SMA, dsb. Bahkan, suatu kota pun bisa terbagi-bagi berdasarkan kasta. Seperti
orang Jakarta dan orang Jogja. Saat orang Jogja diterima menjadi pembantu di
Jakarta, majikan terkadang berbuat semena-mena terhadap pembantu dari Jogja
tersebut. Majikan kurang peduli, banyak mengatur, bahkan cenderung egois. Hal
ini yang menjadi jurang pemisah antara orang kaya dan orang miskin di kota-kota
besar. Selain itu, persoalan keluarga juga menjadi pemicu jurang pemisah antara
orang kaya dan orang miskin. Sering kali, anak dari orang tua yang miskin
merasa terkucilkan. Mereka malu untuk bergaul, bahkan untuk berbicara sedikitpun
dengan teman sebayanya yang berada. Mereka hanya bisa bermain dengan kelompok
yang sama, sehingga tidak saling berbaur dan cenderung terdiskriminasi dan
kompetitif.
Selain itu, faktor politik dan hukum
juga mempengaruhi berkembangnya kelompok kaya dan kelompok miskin. Secara hukum
warga negara memiliki persamaan hak dan kewajiban. Nyatanya, masih banyak
aparat penegak hukum yang tidak mau mendengarkan jeritan rakyat kecil atau
miskin. Contohnya diskriminasi antara tahanan kasus pidana antara orang kaya dan
orang miskin. Di saat orang kaya bisa menikmati penjara bak hotel berbintang,
maka orang miskin hanya bisa diam di fasilitas yang sangat buruk, bahkan mereka
dilayani dengan rasa tidak manusiawi. Dengan angka kemiskinan yang tinggi di
negara berkembang, mereka pun berani berbuat KKN (Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme) demi kepentingan golongan atau kelompok kalangan atas. Hal seperti
itu menyebabkan kurangnya pemerataan infrastruktur di negara berkembang. Pengembang
atau perusahaan besar diijinkan banyak membangun gedung-gedung komersial,
tetapi rakyat kecil merasa terabaikan dan berakhir dengan penggusuran paksa dan
dikembalikan ke kampung halamannya.
Salah satu indikator dari kesenjangan
sosial adalah Gini Ratio. Gini Ratio merupakan indikator yang
terlihat dari banyaknya penduduk miskin dan distribusi pendapatan. Gini Ratio mewakili mindset masyarakat
yang mengatakan bahwa “Yang kaya semakin kaya, Yang miskin semakin miskin.”
Salah satu contoh negara berkembang yang memiliki Gini Ratio yang cukup tinggi adalah Indonesia yang memiliki Gini Ratio sekitar 0,39. Hal ini bisa
dibuktikan di kota-kota besar di Indonesia. Semakin banyak penduduk di kota
besar, semakin banyak lahan yang diubah menjadi pemukiman kumuh, sehingga Gini Ratio semakin tinggi. Penduduk yang
bekerja di pedesaan menjadi berkurang karena fasilitas yang kurang memadai
dibandingkan kota besar.
Kesenjangan sosial dapat berdampak
sangat signifikan pada kesenjangan ekonomi, dimana kekayaan, pendapatan, dan
konsumsi berbeda jauh antara orang kaya dan orang miskin. Dengan adanya
kesenjangan ekonomi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang melambat dalam
jangka panjang. Akibat lainnya yang ditimbulkan oleh kesenjangan sosial antara
lain melemahnya wirausaha, terjadinya kriminalitas, terjadinya monopoli.
Melemahnya wirausaha dapat menjadikan masyarakat semakin konsumtif, dan
wirausaha dianggap remeh dan hanya dapat dilakukan oleh masyarakat dari
kalangan miskin. Padahal, wirausaha dapat meningkatkan produktivitas kerja.
Karena wirausahawan semakin berkurang, kriminalitas pun dilakukan terutama oleh
masyarakat yang memiliki keterbatasan dan masalah ekonomi di kota besar. inilah
yang membuat mereka terpaksa berbuat kriminal, dengan cara merampok dan
mencopet uang masyarakat yang kaya demi menyambung hidup mereka. Masyarakat
miskin yang semakin banyak dan tidak memiliki etos kerja juga mengakibatkan
monopoli kekuasaan besar, baik di bidang ekonomi, hukum, politik, dsb. Mereka
yang kaya mampu melebarkan sayapnya dan orang yang kurang mampu secara ekonomi
dan kekuasaan semakin terpinggirkan.
Ada banyak upaya yang harus
ditanggulangi pemerintah dalam meminimalkan kesenjangan sosial, yaitu
mengutamakan pendidikan bagi warga miskin, menciptakan lapangan kerja dan
mengurangi kemiskinan, meminimalkan korupsi dan memberantasnya, meningkatkan
sistem peradilan di Indonesia dan melakukan pengawasan ketat dari mafia
peradilan, mengajarkan nilai-nilai pancasila, dan juga membuat pertumbuhan
ekonomi bermanfaat. Pada dasarnya, pendidikan bagi warga miskin perlu
digalakkan terutama di desa-desa untuk meningkatkan kreativitas dan etos kerja.
Pendidikan menjadi kunci utama kesuksesan negara. Saat warga miskin sudah memiliki
keahlian yang mumpuni, mereka dapat membangun desa masing-masing tanpa harus
melakukan urbanisasi, sehingga jumlah penduduk dan pendapatan tidak akan
timpang. Pemerintah juga harus berkomitmen untuk memperlancar birokrasi tanpa
korupsi, sehingga suatu proyek yang mengutamakan kepentingan seluruh rakyat
dapat terealisasikan tanpa hambatan. Diharapkan, pertumbuhan ekonomi tidak
hanya bermanfaat bagi masyarakat miskin saja, tetapi bagi seluruh lapisan
masyarakat.
Untuk wilayah pedesaan, pemerintah
harus membangun infrastruktur yang memadai dan melakukan reformasi agraria di
seluruh pedesaan Indonesia. Reformasi agraria adalah pendistribusian ulang
lahan pertanian atas prakarsa pemerintah, sehingga diharapkan lahan pertanian
dapat digunakan semestinya dan dapat menambah lapangan kerja baru di desa.
Selain itu, pemerintah harus mengajak perusahaan besar untuk menjual sahamnya
kepada koperasi, sehingga distribusi pendapatan akan lancar dan merata tidak
hanya di desa, tetapi seluruh wilayah negara sesuai dengan prinsip koperasi.
Dari penjelasan mengenai kesenjangan
sosial, kita dapat mengetahui bahwa kesenjangan sosial merupakan masalah yang
cukup kompleks dan perlu dituntaskan hingga ke akar-akarnya. Penyebutan orang
kaya dan orang miskin serta orang kota dan orang desa harus dihapuskan,
sehingga kesenjangan sosial dapat diminimalkan dan kesejahteraan sosial akan
tercapai sesuai dengan Pancasila sila ke-5 . Negara-negara berkembang yang
berhasil menanggulanginya akan setara dengan negara-negara yang sudah maju seperti
Eropa dan Amerika.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Utama :
Sumber Pendukung :
Komentar
Posting Komentar