PEMANFAATAN KELAPA SAWIT DALAM BIDANG FARMASI DEMI TERWUJUDNYA HILIRISASI INDUSTRI DAN PENGURANGAN ANGKA INFEKSI KULIT DI KABUPATEN MURATARA
Indonesia
adalah negara kepulauan terbesar yang memiliki SDA (Sumber Daya Alam) yang
melimpah khususnya di luar Pulau Jawa. Salah satunya adalah Pulau
Sumatera. Pulau Sumatera merupakan pulau
ketiga terbesar di Indonesia setelah Pulau Kalimantan dan Pulau Papua dengan
luas wilayah sebesar 473.481 km2. Luas wilayah Pulau Sumatera
didominasi oleh perkebunan karet sebanyak 65 % dan kelapa sawit sebanyak 70 %.
Aktivitas ekonomi yang bergantung pada sektor primer tersebut memberikan
kontribusi terbesar kedua bagi perekonomian negara setelah Pulau Jawa. Namun, kualitas
dan kuantitas SDM (Sumber Daya Manusia) di Pulau Sumatera belum memenuhi dalam
pengolahan SDA yang mendominasi daerah terisolir sehingga membutuhkan
infrastruktur sebagai penghubung antara pelabuhan di kota besar dan perkebunan,
terutama bagi provinsi penyumbang terbesar perekonomian Pulau Sumatera seperti
Sumatera Utara (25,76 %), Riau (19,71 %), dan Sumatera Selatan (13,81 %).
Sumatera
Selatan menjadi salah satu provinsi yang dikembangkan oleh pemerintah saat ini
melalui pengembangan wilayah strategis di bagian barat dan timur. Peningkatan
komoditas perkebunan di Sumatera Selatan bagian barat terus berkembang
mengingat wilayah tersebut dilewati Jalan Lintas Tengah Sumatera yang
menghubungkan Bakauheni, Lampung hingga Banda Aceh. Salah satunya adalah
Kabupaten Musi Rawas Utara atau yang disingkat Muratara. Kabupaten Muratara
merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten induk Musi Rawas dengan tujuh
kecamatan dan 83 desa. Selain itu, Kabupaten Muratara memiliki kepadatan
penduduk yang cukup rendah, yaitu 32 orang tiap km2 sehingga
setengah dari luas wilayah lebih banyak digunakan sebagai hutan suaka alam,
hutan lindung, dan hutan pengelolaan. Pertumbuhan ekonomi kabupaten Muratara
bertumpu pada sektor perdagangan dan pengolahan. Walaupun industri pengolahan
di Muratara berada pada nomor dua pada kontribusi dalam PDRB sebanyak 21,07 %,
hal tersebut masih kurang mencapai standar PDRB Sumatera Selatan. Buktinya
adalah pertumbuhan ekonomi Muratara pada tahun 2017 yang mencapai 5,46 % yang
berada di bawah 5,6 %. Oleh karena itu, banyak potensi kabupaten Muratara
seperti perkebunan yang belum dimanfaatkan untuk kemajuan masyarakat Muratara,
salah satu potensi yang akan diangkat adalah perkebunan kelapa sawit.
Kabupaten
Muratara memiliki komoditas kelapa sawit dengan luas 107.471 ton, terluas nomor
dua setelah komoditas karet. Kelapa sawit dan karet mudah tumbuh di tanah
berjenis podsolik yang ditandai dengan tanah berwarna kuning kecokelatan.
Walaupun penanaman kelapa sawit dianggap menjadi penyebab menyusutnya hutan di
Indonesia, kelapa sawit menjadi penyumbang devisa terbesar negara karena mampu
memproduksi minyak sawit (CPO) dan minyak inti sawit (KPO) dalam jumlah besar.
Namun, semakin berkembangnya teknologi pada industri pengolahan kelapa sawit,
tanaman kelapa sawit memiliki manfaat pada bidang farmasi mengingat kelapa
sawit memiliki kandungan vitamin E (tokoferol dan tokotrienol) yang mampu
melembabkan dan mencerahkan kulit. Hal ini sejalan dengan pengurangan angka
infeksi (salah satunya pada kulit) pada balita di Kabupaten Muratara yang
cenderung fluktuatif dalam rentang tahun 2015-2017 (Data Kesehatan Muratara,
2016). Manfaat kelapa sawit dalam mewujudkan misi keempat (peningkatan
kesehatan masyarakat) terdiri atas pembuatan losion dan krim, pengurangan rasa
luka bakar, dam bahan baku pembuatan sabun.
Pemanfaatan
pertama pada kelapa sawit adalah sebagai emulsifier
dalam pembuatan losion dan krim. Persamaan antara lotion dan krim adalah
sama-sama emulsi, yaitu pencampuran fasa air dan fasa minyak. Pemanfaatan
keduanya merupakan antioksidan yang baik untuk mencegah penyakit kulit yang
disebabkan oleh kekurangan gizi, asap rokok, sinar ultraviolet, dan polusi. Perbedaan
antara losion dan krim terletak pada jumlah fasa air dan fasa minyak dimana krim
lebih padat daripada losion karena memiliki lebih banyak fasa minyak daripada
fasa air. Walaupun begitu, keduanya dapat menyatu dengan menggunakan emulsifier atau pengemulsi melalui
turunan minyak kelapa sawit, yaitu stearil alkohol etoksilat. Biasanya, orang
akan menggunakan pengemulsi dari minyak bumi. Padahal, minyak bumi merupakan
petrokimia yang tidak terbarukan sehingga dapat habis penggunaannya.
Akhir-akhir ini, peneliti mencoba berbagai macam minyak nabati (salah satunya
minyak kelapa sawit) untuk membuat produk farmasi yang menyehatkan kulit. Kelebihan
dari turunan dari minyak kelapa sawit adalah tahan terhadap pH lingkungan dan bersifat
emolien (pelembut). Berdasarkan penelitian, penambahan stearil alkohol
etoksilat memengaruhi stabilitas atau kepadatan kedua emulsi. Penambahan
emulsifier tersebut akan menurunkan stabilitas lotion dan meningkatkan
stabilitas cream. Tetapi, pH pada lotion dan cream tetap berada pada angka 7
atau netral.
Pemanfaatan
kedua pada kelapa sawit adalah pengurangan luka bakar. Seperti yang diketahui,
luka bakar di kulit rentan terhadap infeksi oleh mikroba seperti bakteri S. Aureus yang bersifat resistensi
terhadap antibiotik sebesar 77 % dan bakteri E. Coli sebesar 19 %. Para peneliti mencoba menggunakan ekstrak
cangkang kelapa sawit. Perlu diketahui bahwa bakteri S. Aureus termasuk jenis bakteri gram positif dan E. Coli termasuk jenis bakteri gram
negatif. Ekstrak cangkang kelapa sawit memiliki metabolit sekunder yang
dibutuhkan untuk membuat produk antimikroba, khususnya triterpenoid, alkaloid,
flavonoid, sterioid, dan tanin. Berdasarkan penelitian, zat aktif yang dominan
terhadap pencegahan infeksi adalah triterpenoid dan flavonoid. Triterpenoid bekerja
dalam mengganggu aktivitas pembentukan dinding sel pada bakteri gram positif
agar mudah dirusak oleh flavonoid. Dinding sel tersebut mengandung
peptidoglikan yang mudah ditembus oleh kedua zat aktif tersebut. Kepolaran yang
tinggi pada zat aktif dan peptidoglikan menyebabkan daya hambat terhadap luka
yang lebih tinggi dibandingkan bakteri gram negatif. Semakin banyaknya ekstrak
cangkang kelapa sawit sebanyak 100 %, mikroba semakin terhambat terhadap luka
(terutama S. Aureus) karena tidak
tumbuh pada suasana asam (pH 4 pada ekstrak cangkang kelapa sawit) sehingga
direkomendasikan sebagai pengganti betadine.
Pemanfaatan
terakhir pada kelapa sawit adalah sebagai bahan baku dalam pembuatan sabun. Sabun
yang terbuat dari minyak kelapa sawit terbagi ke dalam dua reaksi, yaitu
saponifikasi (trigliserida dan alkali) dan netralisasi (asam lemak bebas dan
alkali). Namun, sabun akan menjadi pelembab terbaik bagi kulit melalui reaksi
saponifikasi karena trigliserida akan menghasilkan gliserol yang bekerja
sebagai fasa gel. Para peneliti mencoba membuat inovasi berupa sabun transparan
karena stabilitas busa yang dihasilkan sebagai pembersih kotoran harus baik.
Berdasarkan literatur, minyak kelapa sawit memiliki kandungan asam palmitat
sebesar 44,3 % (Depperin, 2007). Berdasarkan penelitian, bahan aktif yang
digunakan dalam membuat sabun padat transparan adalah ekstrak teh putih karena
mengandung antioksidan yang tinggi. Ekstrak teh putih memiliki beberapa kelebihan,
yaitu memiliki kandungan saponin yang membantu menghasilkan busa lebih banyak, asam
lemak yang lebih banyak membuat sabun lebih keras, dan bermanfaat sebagai
antimikroba akibat infeksi kulit oleh S.
Aureus dan Pseudomonas Aeruginosa.
Namun, ekstrak teh putih tidak bisa ditambahkan secara berlebih karena
mengandung senyawa alkali bebas yang menyebabkan iritasi pada kulit. Pembuatan
ekstrak teh putih dilakukan dengan metode maserasi tunggal lalu ditambahkan
pada campuran sabun padat transparan yang harus dijaga pada suhu 50oC.
Sedangkan, pembuatan sabun padat transparan memerlukan media pemanas minyak
kelapa sawit, yaitu waterbath. Bahan
pendukung lainnya adalah NaOH 30 %, etanol 96 %, gliserin, sirup gula, NaCl,
dan fragrance (pewangi). Seluruh
bahan diaduk rata yang kemudian akan dicetak dan didiamkan selama 1 hari.
Pembuatan sabun diakhiri dengan curing
selama 3 minggu.
Berdasarkan
ketiga manfaat dalam bidang farmasi, minyak kelapa sawit tidak harus langsung
diekspor tanpa pengolahan lebih lanjut. Apabila Indonesia hanya mengekspor
minyak kelapa sawit yang tergolong bahan mentah, naik turunnya harga akan terus
bergantung pada harga minyak global. Terlebih lagi, selama tiga tahun terakhir,
harga minyak global mengalami penurunan drastis sehingga nilai ekspor minyak
kelapa sawit semakin tidak berguna. Hal ini mendorong masyarakat khususnya
kabupaten Muratara untuk bekerja sama dalam memanfaatkan minyak kelapa sawit
karena lahan kelapa sawit di Indonesia lebih luas dibandingkan kedua negara
tetangga, yaitu Malaysia dan Thailand. Jika Indonesia mampu merespon
pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan dengan meningkatkan kualitas Sumber
Daya Manusia kabupaten Muratara yang masih di bawah SDM Sumatera Selatan, misi
keempat (peningkatan hilirisasi industri, khususnya pembinaan rumah tangga)
akan tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Pemerintah
Kabupaten Musi Rawas Utara. 2017. Laporan
Kinerja. Diakses 25 Juni 2019, dari https://muratarakab.go.id/files/22.%20lkjip%20MURATARA%202017.pdf
Kementrian
BUMN (Agustus, 2018). 17 Manfaat Kelapa
Sawit Untuk Kesehatan dan Kecantikan. Diakses 25 Juni 2019, dari http://www.bumn.go.id/ptpn1/berita/1-17-Manfaat-Kelapa-Sawit-Untuk-Kesehatan-dan-Kecantikan
Fauzi,
Yan, dkk. 2012. Kelapa Sawit. Depok :
Penebar Swadaya
Yunilawati,
Retno, Yemirta dan Yesy K. 2011. Penggunaan Emulsifier
Stearil Alkohol Etoksilat Derivat Minyak Kelapa Sawit pada Produk Losion dan
Krim. Jurnal Kimia Kemasan. 33 (1) :
83-89
Haryati,
Sri, Faizah Hamzah, dan Fajar R. 2015. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Cangkang Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq). Jurnal
Faperta. 2 (1) : 1-10
Widyasanti,
Asri, Chintya L. F, dan Dadan R. 2016. Pembuatan Sabun Padat Transparan
Menggunakan Minyak Kelapa Sawit (Palm Oil)
dengan Penambahan Bahan Aktif Ekstrak Teh Putih (Camellia sinensis). Jurnal
Teknik Pertanian Lampung. 5 (3) :
125-136
Dinas
kesehatan Pemerintah Kabupaten Musi Rawas Utara. 2017. Profil Kesehatan Kabupaten Musi Rawas Utara Tahun 2017 (Data Tahun
2016). Diakses 25 Juni 2019, dari http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KAB_KOTA_2016/1613_Sumsel_Kab_Musi_Rawas_Utara_2016.pdf
Sari,
Siti Fatimah, Devi P, dan Lili A. P. 2015. “Ekstraksi Senyawa Bioaktif dari Palm Fatty Acid Distillate untuk Penambahan Antioksidan pada Cream Lotion”. PKM-Penelitian.
Institut Pertanian STIPER Yogyakarta
Sosilawati,
dkk. 2016. Sinkronisasi Program dan
Pembiayaan Pembangunan Jangka Pendek 2018-2020 : Pulau Sumatera. Jakarta :
Pusat Pemrograman dan Evaluasi Keterpaduan Infrastruktur PUPR
Bappeda
Musi Rawas Utara (2016). Sejarah.
Diakses 25 Juni 2019, dari http://bappeda.muratarakab.go.id/page/sejarah
Good .....
BalasHapusKonsep & inspirasi Mahasiswa Universitas Indonesia, dalam pemanfaatan SDA untuk membangun Desa Musi Rawas Utara Sumatera Selatan..