Manusia
tidak bisa terlepas dari zaman. Seiring perkembangan zaman, kehidupan manusia
semakin kompleks. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu penunjang yang dapat
mengakselerasi proses untuk kepentingan manusia. Penunjang kehidupan manusia
tersebut adalah teknologi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, teknologi
dapat diartikan sebagai keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang
diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Sedangkan, M.
Maryono mengartikan teknologi sebagai pengembangan dan penerapan berbagai
peralatan atau sistem untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia
dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan dua pengertian tersebut, teknologi
menjadi bagian penting dari perubahan besar-besaran yang memengaruhi gaya hidup
manusia yang disebut revolusi industri. Kehadiran revolusi industri sekarang
ini tidak dapat ditunda. Revolusi industri berhubungan dengan teknologi yang
terus berubah seiring pemikiran manusia yang semakin maju, mulai dari revolusi
industri 1.0 yang menciptakan mesin uap dan kereta api (1750-1930); revolusi
industri 2.0 yang menciptakan alat-alat listrik, komunikasi, bahan kimia
(1870-1900); dan revolusi industri 3.0 yang menciptakan komputer, internet, dan
telepon genggam (1960-sekarang). Sekarang, Indonesia sedang mengalami masa
revolusi industri 4.0 atau cyber-physical
systems. Pada bidang farmasi, revolusi industri 4.0 sangat menguntungkan dari
segi produktivitas kerja. Esai ini membahas peran farmasis pada revolusi
industri 4.0 dengan teknologi 3D Printing
dalam menunjang pelayanan prima kepada pasien.
3D Printing
merupakan salah satu bentuk dari additive
manufacturing dimana sebuah objek tiga dimensi dibentuk
dengan menambahkan material
layer demi layer (Rayna
dan Striukova, 2016). Objek tiga dimensi adalah objek yang
dapat dilihat dari berbagai arah karena memiliki luas permukaan dan volume. 3D Printing dapat mengembangkan revolusi
industri 4.0 karena menggunakan sistem digital, yaitu software Computer-Assisted Design (CAD) atau menggunakan pelayanan
online yang telah disediakan dari platform
3D printing. Printer tiga dimensi ini bermanfaat dalam berbagai bidang,
salah satunya bidang farmasi. 3D printing
dalam bidang farmasi dijadikan sebagai alat penghubung antara resep dan
obat melalui email komputer. 3D Printing termasuk salah satu
teknologi kunci revolusi industri 4.0 karena mengganti sistem manual dengan
sistem digital. Email sebagai sistem
digital tidak hanya sekadar alat komunikasi elektronik seperti revolusi
industri 3.0 lalu, tetapi juga sebagai penyalur obat dengan cepat. Teknologi 3D Printing diciptakan pada tahun 1986
oleh Charles Hall dengan nama stereolithography.
Walaupun teknologi ini diciptakan sejak lama, nama tersebut tidak banyak dikenal
hingga abad ke-21. Negara yang pertama kali mencoba teknologi 3D Printing adalah Amerika Serikat
melalui FDA (sebutan untuk BPOM Amerika Serikat). FDA menyetujui obat berbentuk
pil yang bernama SPIRITAM, salah satu obat epilepsi yang dihasilkan pertama
kali melalui 3D Printing. Obat ini
memiliki formulasi khusus berdasarkan resep eletronik dan memiliki keunggulan
pada bentuk yang mampu menyesuaikan dengan keinginan pasien dan kemudahan dalam
ditelan dan diserap oleh sistem tubuh pasien. Setelah itu, tim dokter dari University of Central Lancashire (UCLan)
di Preston, Inggris menggunakan teknologi 3D
Printing untuk mencetak tablet secara spesifik untuk pasien. Indonesia
perlu mengadopsi 3D Printing dalam
membuat obat farmasetik di masa depan baik berbentuk solid, liquid, dan powder. Berikut ini adalah empat alasan
farmasis perlu mengadopsi 3D Printing
untuk mengembangkan revolusi industri 4.0.
Pertama,
keluhan banyak pasien mengenai waktu mengantri yang lama untuk mengambil obat.
Waktu tunggu pasien dalam mengambil obat memengaruhi kepuasan pasien terhadap
pelayanan kesehatan di rumah sakit dan apotek. Standar Pelayanan Minimal (SPM)
pelayanan farmasi sesuai Depkes Republik Indonesia adalah waktu tunggu obat
jadi dengan maksimal 30 menit dan obat racikan dengan maksimal 60 menit. Obat
jadi adalah obat dalam keadaan murni atau campuran dalam keadaan murni atau
campuran dalam bentuk salep, cairan, supositoria, kapsul, pil, tablet, serbuk
atau bentuk lainnya sesuai Farmakope Indonesia (dikutip dari
pengertianahli.id). Sedangkan, Obat racikan (compounding medicine) adalah obat yang dibentuk dengan menyampurkan
bahan-bahan aktif. Bentuk obat racikan di Indonesia tersedia dalam bentuk solid (puyer) dan bentuk liquid (sirup). Berdasarkan kedua
pengertian tersebut, obat jadi memiliki waktu yang lebih singkat daripada obat
racikan karena obat jadi sudah diformulasikan dari pabrik aslinya sehingga
hanya memerlukan sedikit campuran. Hal ini berbeda dengan obat racikan yang
menggunakan kekuatan tangan untuk mencampurkan, menggerus, dan membagi campuran
yang terdiri atas bahan aktif dan bahan tambahan pada kertas perkamen sehingga
menghasilkan formulasi obat yang baru dan membutukan waktu dua kali lebih lama.
Berdasarkan jurnal “Faktor Penyebab Waktu Tunggu Lama di Pelayanan Instalasi
Farmasi Rawat Jalan RSUD Blambangan”, waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk
pengerjaan obat jadi sekitar 70,81 menit dan obat racikan sekitar 139,85 menit.
Untuk saat ini, Indonesia belum memberikan solusi untuk menggantikan peracikan
oleh apoteker dengan mesin. Rumah sakit di Indonesia melakukan langkah awal
dengan menambah jumlah loket antrian pengambilan obat sebagai antisipasi. Jika
Indonesia melakukan pencetakan obat dengan 3D
Printing, waktu tunggu pengambilan obat dipastikan memenuhi Standar
Pelayanan Minimal (SPM) karena komposisi dari berbagai bahan aktif obat sudah
dicampur dengan bantuan mesin membentuk lapisan-lapisan sesuai wujudnya.
Kedua,
keluhan pasien mengenai obat yang mahal. Bukti yang mendukung alasan tersebut
adalah jurnal “Studi Kasus Analisis Sistem Penyimpanan Obat Di Sub Bagian
Logistik Rumah Sakit Grha Permata Ibu Tahun 2014”, banyak obat yang sudah
kadaluarsa dengan jumlah yang tinggi karena permintaan obat di Rumah Sakit yang
rendah dan tempat penyimpanan obat dengan kapasitas yang tidak sebanding dengan
obat yang terdistribusi secara tidak terkontrol. Hasilnya, penataan obat
menjadi tidak teratur. Langkah awal untuk menyelesaikan permasalahan tersebut
adalah menambah jumlah rak dan Sumber Daya Manusia bidang Sub Bagian Logistik.
Namun, Indonesia akan mengalami revolusi industri 4.0 sehingga inventaris di
rumah sakit harus berbasis digital. 3D Printing adalah solusi untuk mengatasi
penumpukan obat menggunakan suatu printer yang terhubung dengan komputer. Hal
ini berbeda dengan teknik penyimpanan tradisional yang memerlukan berbagai
macam pencetak yang memiliki biaya lebih tinggi daripada penggunaan printer 3D
dan tinta kimia. Biaya berbagai alat yang lebih tinggi menyebabkan biaya obat
akan meningkat. Walaupun printer 3D dan tinta kimia membutuhkan investasi yang
besar, obat yang dihasilkan akan lebih hemat dan biayanya dapat dikurangi.
Ketiga,
obat hasil peracikan secara manual kurang baik bagi masyarakat. Peracikan obat
merupakan penyediaan obat yang dibutuhkan oleh pasien secara individu yang
dibuat di apotek atau sarana kesehatan karena terbatasnya sediaan obat yang ada
(Allen, 2003). Di Amerika Serikat, obat racikan menjadi perdebatan karena tidak
diujikan secara klinis terlebih dahulu. Walaupun bahan aktif yang digunakan
dapat diterima oleh FDA, hasil formulasi obat tidak terjamin dari segi keamanan
dan efektivitasnya dalam tubuh. Menurut Steve Silverman, asisten direktur Pusat
Evaluasi dan Penelitian Obat FDA, praktek peracikan obat dapat menyebabkan
kontaminasi oleh bakteri di tempat terbuka. Hal ini dapat berisiko pada
penyakit dasar yang berat pada pasien. Menurut jurnal “Evaluasi Struktur
Pelayanan Praktek Peracikan Obat Di Puskesmas Wilayah Kabupaten Badung, Bali”,
stabilitas obat sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti suhu,
radiasi, cahaya, udara (terutama oksigen, karbon dioksida, dan uap air), serta
kelembaban udara (BPOM, 2006). Oleh karena itu, FDA lebih menjamin obat yang
dihasilkan melalui mesin printer 3D karena mutunya akan sama dengan obat yang
diproduksi di pabrik secara langsung. Bahkan, dengan adanya 3D printing, peluang untuk
mempertahankan eksistensi apotek semakin kecil karena pasien dapat mencetak
obatnya sendiri melalui resep elektronik, misalnya ibuprofen yang merupakan
obat dengan molekul sederhana. Mesin printer 3D menggunakan tinta kimia dalam
jumlah yang sedikit untuk membuat obat ibuprofen sesuai dengan kandungan obat,
yaitu karbon, nitrogen, dan oksigen. Formulasi obat yang dilakukan oleh 3D Printing tidak akan ditemukan
kontaminan karena dilakukan pada tempat tertutup sehingga stabilitas obat tetap
terjaga hingga dikonsumsi oleh pasien.
Keempat,
tingkat medication error dokter dan
apoteker yang tinggi yang dapat menurunkan keselamatan pasien. Fokus pelayanan
kefarmasian bergeser dari kepedulian terhadap obat (drug oriented) menuju pelayanan yang berpusat pada pasien (patient oriented). Berlakunya fokus
tersebut mengharuskan apoteker untuk memperhatikan dosis yang sesuai antara
pasien anak-anak dan pasien dewasa, pasien penyakit anemia dan pasien penyakit
leukimia, dan pasien spesifik lainnya. Oleh karena itu, apoteker dituntut untuk
menerapkan manajemen resiko. Manajemen resiko adalah suatu metode yang
sistematis untuk mengidentifikasi, menganalisis, mengendalikan, memantau,
mengevaluasi, dan mengkomunikasikan risiko yang ada pada suatu kegiatan
(dikutip dari jurnal Depkes RI, 2008). Manajemen risiko dalam pelayanan
kefarmasian dilakukan saat medication
error. Berdasarkan jurnal “Gambaran Medication
Error pada fase prescribing dan
administrasi pada pengobatan stroke di IGD Rumah Sakit X di Yogyakarta”,
kejadian medication error terbagi
menjadi empat fase, yaitu fase prescribing
(penulisan resep oleh dokter), fase transcribing
(pembacaan resep oleh apoteker), fase dispensing
(penyiapan hingga penyerahan obat oleh apoteker), dan fase administrasi (proses
penggunaan obat oleh pasien) (Cochen, 1991). Pada studi prospektif yang
dilakukan oleh Perwitasari et al (2010) bulan Juni-September 2009 di rumah
sakit pemerintah di Yogyakarta, medication
errors mencapai 224 resep dari 229 resep yang diteliti dengan kategori prescribing errors mencapai tingkat
tertinggi, yaitu 99,12 %. Namun, prescribing
errors yang tinggi tidak memengaruhi pharmaceutical
errors yang mencapai tingkat terendah, yaitu 3,02 %. Pharmaceutical errors berhubungan dengan dosis yang
dipertimbangkan. Dengan adanya 3D
Printing, medication errors akan
berkurang karena 3D Printing berhasil
menggabungkan resep elektronik dengan pencetakan obat dalam jarak dekat dan
jarak jauh dengan menggunakan email.
Terakhir,
bentuk obat yang kurang bervariasi sehingga anak sulit diminta untuk minum
obat. Secara umum, sediaan obat berbentuk tablet dan pil terlihat bulat dan
oval sehingga kurang menarik perhatian anak-anak. Selain itu, Bentuk obat seperti
tablet dan pil tidak mencair di mulut. Obat seperti itu menyulitkan anak untuk
menelannya. Bentuk obat sangat memengaruhi kepatuhan anak. Kepatuhan berasal
dari kata “patuh” yang berarti taat dan disiplin (KBBI). Meningkatkan kepatuhan
klien khususnya anak untuk minum obat bukan hal yang mudah walaupun bentuk obat
sudah diganti dalam bentuk sirup dan ditambahkan perasa yang disukai anak. 3D Printing menghasilkan obat yang
berdosis tinggi sesuai dengan penyakit dan usia anak sehingga mudah ditelan
karena daya serap terhadap tubuh yang tinggi. Setiap orang memiliki metabolisme
tubuh yang berbeda sehingga 3D Printing
berfokus pada bagaimana efektivitas obat bagi tubuh akan memberikan kesembuhan
pada pasien khususnya anak lebih cepat daripada dengan menggunakan obat hasil
peracikan biasa. Tim dari School of Pharmacy, University College London pernah melakukan
eksperimen dengan memproduksi tablet dalam berbagai ukuran dan dosis menggunakan
printer 3D (tiga dimensi). Bahannya adalah semacam plastik sintetis yang dapat
larut dalam air. Dari percobaan itu, peneliti berhasil memastikan bahwa obat
berbentuk cair dapat disimpan di tempat tertentu dan telah terkoneksi ke
printer, sehingga ketika dibutuhkan nantinya, obat cair tersebut akan terserap
ke dalam plastik yang ada di dalam printer dan menghasilkan obat yang
dibutuhkan (Rahma Lilahi Sativa, 2015). Secara kualitas, 3D Printing juga mampu memenuhi keinginan anak pada segi bentuk
tampilan obat tablet dan pil, misalnya bentuk dinosaurus, cumi-cumi, ubur-ubur,
dan bentuk-bentuk unik lain.
Berdasarkan
empat alasan yang sudah dijelaskan, farmasis sebagai profesi yang bergerak pada
pelayanan kefarmasian perlu meningkatkan pelayanan prima yang berpusat kepada
pasien (patient-oriented). Untuk
merespon perkembangan revolusi industri 4.0 yang muncul di berbagai negara,
penulis merekomendasikan peran farmasis dalam meningkatkan kualitas tidak hanya
dalam meracik obat, tetapi juga mampu mengendalikan mesin pencetak obat dan
mengoperasikan komputer untuk membaca resep elektronik sehingga obat dapat
dihasilkan dengan waktu yang cepat, biaya yang murah, bentuk yang sesuai
keinginan, presisi yang tepat, dan tidak membahayakan pasien. Apabila farmasis
hanya berkutat dalam kuantitas penyediaan sarana pelayanan obat tanpa inovasi,
peluang meningkatnya pasien penyakit tidak menular seperti diabetes melitus,
hipertensi, penyakit jantung, ginjal kronis, hingga kanker akan semakin tinggi seiring
pola hidup yang tidak sehat seperti mengonsumsi makanan berlemak dengan
berlebihan, kurang melakukan aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan polusi
udara. Apabila pasien di masa depan semakin banyak, penambahan sarana pelayanan
obat akan sia-sia.
Referensi :
Eka
Satya, Venti. 2018. Strategi Indonesia Menghadapi Industri 4.0. Kajian Info Singkat. 10 (9) : 19-24
Zakky
(Desember, 2018). Pengertian Teknologi Menurut Para Ahli Beserta Arti dan Definisinya. Diakses 7 Maret 2019, dari https://www.zonareferensi.com/pengertian-teknologi/
Wen
Yao, Mak (September, 2017). Obat hasil print 3D: Inilah masa depan dunia farmasetika? Diakses 7 Maret 2019, dari https://today.mims.com/obat hasil-print-3d--inilah-masa-depan-dunia-farmasetika-
Sobron
Lubis dan David Sutanto. 2016. Pengaruh Posisi Orientasi Objek Pada Proses Rapid Prototyping 3D Printing Terhadap Kekuatan Tarik
Material Polymer. Jurnal
Sinergi. 20 (3) : 229-238
Rian,
Guntur (unidentified). Makalah Seminar Tugas Akhir Simulasi Sistem Pelayanan Resep Pada Apotek
Berprioritas Banyak Loket. Diakses 7 Maret
2019, dari https://www.academia.edu/8837433/MAKALAH_SEMINAR_TUGAS_A KHIR_SIMULASI_SISTEM_PELAYANAN_RESEP_PADA_APOTEK_ BERPRIORITAS_BANYAK_LOKET
Ismianti,
Herianto. 2018. Framework Prediksi Penggunaan 3D Printing di Indonesia Pada
Tahun 2030. Jurnal Seminar Nasional IENACO. ISSN 2337-4349 : 546-553
Fahd
M (Agustus, 2015). Obat Pertama yang Dicetak Printer 3D. Diakses 7 Maret 2019, dari https://www.plimbi.com/article/160747/obat-pertama-yang- dicetak-printer-3d
Lucu,
Anto (Januari, 2010). RUM-Risiko Dari Obat Racikan Farmasi. Diakses 7 Maret 2019, dari http://milissehat.web.id/?p=289
Rosgani,
Oki (November, 2014). Penggunaan Printer 3D Dalam Dunia Medis. Diakses 8 Maret 2019, dari https://dailysocial.id/post/penggunaan-printer- 3d-dalam-dunia-medis
Lilahi
Sativa, Rahma (Juni, 2015). Benci Makan Obat? Peneliti Inggris Tawarkan Pil-pil Lucu untuk Penawarnya. Diakses 8
Maret 2019, dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/2948555/benci-makan-obat- peneliti-inggris-tawarkan-pil-pil-lucu-untuk-penawarnya
Chairun
Muna dan Nissa (2017). Hubungan Pengetahuan dengan Kepatuhan Ibu dalam Pemberian Zinc Pada Balita Penderita
Diare di Puskesmas Helvatia Medan.
Diakses 8 Maret 2019, dari http://repositori.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/1556/131101132.pd f?sequence=1&isAllowed=y
Bahren,
Raehanul, dkk. 2014. Edisi VI, Tahun I - Majalah Kesehatan Muslim: Bagaimana Mendidik Anak yang Bandel ?
Sleman : Pustaka Muslim
Nur
Ngazis, Amal (Agustus, 2015). Pil Cetak 3D Resmi Diperbolehkan. Diakses 8 Maret 2019, dari https://www.viva.co.id/arsip/657158-pil-cetak-3d- resmi-diperbolehkan
Anonim
(Agustus, 2015). Badan Pengawas Obat AS Legalkan Obat Hasil Cetak 3 Dimensi. Diakses 8 Maret 2019, dari https://www.blackxperience.com/innovationnews/detail/badan- pengawas-obat-as-legalkan-obat-hasil-cetak-3-dimensi
Iljanto,
Sandi dan Restia Ardia Rini (2014). Studi Kasus Analisis Sistem Penyimpanan Obat Di Sub Bagian Logistik
Rumah Sakit Grha Permata Ibu Tahun 2014.
Diakses 8 Maret 2019, dari http://lib.ui.ac.id/naskahringkas/2016-05/S57998- Restia%20Ardia%20Rini
Anonim
(April, 2018). Bagaimana 3D printing merevolusi obat tradisional? Diakses 8 Maret 2019, dari http://id.3d-printerfilament.com/info/how- does-3d-printing-revolutionize-traditional-25439075.html
Anonim
(September, 2012). Printer 3D Siap Mewujudkan Imajinasi. Diakses 8 Maret 2019, dari https://inet.detik.com/consumer/d-2008705/printer-3d- siap-mewujudkan-imajinasi
Ayu
Putu Satya Dewi, Dewa dan Chairun Wiedyaningtyas. 2012. Evaluasi Struktur Pelayanan Praktek Peracikan
Obat Di Puskesmas Wilayah Kabupaten
Badung, Bali. Majalah Farmasetik. 8 (2) : 158-162
Purwanto,
Heri, dkk. 2015. Faktor Penyebab Waktu Tunggu Lama di Pelayanan Instalasi Farmasi Rawat Jalan RSUD
Blambangan. Jurnal Kedokteran Brawijaya.
28 (2) : 159-162
Megawati,
dkk. 2016. Hubungan Dimensi Mutu Pelayanan Farmasi Rawat Jalan dengan Kepuasan Pasien di RS Baptis Batu :
Peran Kepesertaan Asuransi Jurnal
Aplikasi Manajemen. 14 (1) : 147-160
Dimitria,
Ernest (Oktober, 2012). Racik Obat dengan Teknologi 3D Printing Diakses 8 Maret 2019, dari http://www.jagatreview.com/2012/10/racik- obat-dengan-teknologi-3d-printing/
Wahyu
Permana, Rizky (Maret, 2019). Kenaikan Jumlah Penyakit Tidak Menular Disebabkan Gaya Hidup Masyarakat. Diakses 8
Maret 2019, dari https://www.merdeka.com/sehat/kenaikan-jumlah-penyakit-tidak-menular- disebabkan-gaya-hidup-masyarakat.html
Komentar
Posting Komentar