Peningkatan Pendapatan oleh UMKM tanpa Mengabaikan Dampak Lingkungan


Indonesia adalah negara yang memiliki perekonomian terbaik nomor lima di Asia Tenggara setelah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand. Hal ini dapat dibuktikan dengan masyarakat miskin yang sudah menyentuh angka 10 % dari total penduduk. Kemiskinan berhubungan dengan pendapatan per kapita penduduk setiap tahun yang rendah. Namun, berdasarkan artikel IlmuGeografi.com , Indonesia mengalami kenaikan pendapatan per kapita menjadi US$ 13.120. Kenaikan tersebut tidak terlepas dari banyaknya UMKM yang memberikan kontribusi sebanyak 60 % bagi perekonomian Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Palembang, Makassar, dan kota-kota terbesar lainnya berdasarkan jumlah penduduk. Urbanisasi yang sangat gencar mengakibatkan masyarakat banyak yang terlantar jika tidak diberikan ruang oleh pemerintah untuk mengembangkan bisnis baik barang maupun jasa. Dengan UMKM, masyarakat dapat terfasilitasi oleh pemerintah untuk berbisnis mulai dari nol. UMKM merupakan kepanjangan dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2008, UMKM terbagi menjadi tiga jenis usaha berdasarkan skala usaha ekonomi, yaitu :
1. Usaha mikro, yaitu usaha yang memiliki kekayaan bersih maksimal 50 juta dan hasil penjualan tahunan maksimal 500 juta.
2. Usaha kecil, yaitu usaha yang memiliki kekayaan bersih 50 juta sampai 500 juta dan hasil penjualan tahunan 300 juta sampai 2,5 milyar.
3. Usaha menengah, yaitu usaha yang memiliki kekayaan bersih 500 juta sampai 10 milyar dan hasil penjualan tahunan 2,5 milyar sampai 50 milyar.
Ketiga jenis usaha tersebut bersifat produktif yang dimiliki oleh perseorangan atau badan usaha yang bukan menjadi anak buah maupun cabang perusahaan serta kekayaan bersih yang dimiliki belum termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Bagi negara yang sedang berkembang, UMKM dapat memperluas tenaga pekerjaan, menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang produktif, serta mampu menghadapi arus globalisasi yang memengaruhi kedinamisan UMKM.
Indonesia sebagai negara berkembang masih menggantungkan kehidupan pada sektor UMKM karena berkontribusi sebanyak 50 % pada pendapatan per kapita dan 10 % ekspor. Berdasarkan data BPS 2014, UMKM berkontribusi besar pada kedua hal tersebut sebesar 27 milyar. UMKM di Indonesia kebanyakan bergerak di bidang perdagangan, pangan, olahan pangan, tekstil dan garmen, kayu dan produk kayu, serta produksi mineral non logam. Hal ini disebabkan oleh komoditas unggulan Indonesia yang memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) untuk memajukan perekonomiannya.  Meskipun berkontribusi besar, keberadaan UMKM ini bekum mampu meningkatkan perekonomian lebih signifikan. Buktinya, jumlah wirausahawan Indonesia belum mencapai target yang menjadi dorongan pemerintah, yaitu 2 persen dari jumlah penduduk. Secara persentase, jumlah tersebut kalah jauh dibandingkan dengan negara yang jumlah penduduknya lebih sedikit dari Indonesia seperti Singapura (tujuh persen), Malaysia (lima persen), dan Thailand (empat persen). Diperkirakan jumlah wirausahawan di Indonesia meningkat seiring dengan keinginan penduduk untuk berwirausaha terbanyak nomor dua setelah Philipina.
Keberadaan UMKM di Indonesia sangat penting, khususnya bagi masyarakat dengan tingkat ekonomi yang menengah ke bawah. Masyarakat dengan perekonomian tersebut diberikan akses yang luas oleh pemerintah sebagai bentuk pemerataan ekonomi hingga wilayah yang terpencil mengingat jumlah perusahaan besar yang kurang mampu mengakomodir masyarakat dengan jangkauan yang jauh sehingga UMKM ini bersifat independen atau tidak bekerja sebagai anak atau cabang suatu perusahaan, melainkan sebagai lembaga yang bekerja sama dengan koperasi. Koperasi merupakan fasiltas yang membantu UMKM dalam mengembangkan gerakan ekonomi rakyat karena fokus utama dari koperasi adalah kesejahteraan anggota sehingga masyarakat mampu bersaing secara nasional maupun internasional.
Contoh dari UMKM yang mampu menembus pasar internasional adalah ekspotir buah Ahmad Abdul Hadi (42), asal Cirebon, Jawa Barat. Beliau mengembangkan usaha yang bersifat mikro. Walaupun usaha tersebut terbilang sederhana, beliau telah menekuni ekspor buah lokal Sumber Buah Sae sejak 2008 hingga sekarang. Sekarang, beliau telah mengirimkan 200 ton per tahun buah tersebut ke berbagai belahan dunia seperti Singapura, Hongkong, Qatar, Dubai, Bahrain, Oman, dan Arab Saudi. Dari contoh di atas, dapat dibuktikan bahwa Indonesia tidak hanya mampu mengimpor buah dari luar negeri saja. Sudah lama Indonesia memiliki UMKM yang maju dengan ketekunan namun jarang terekspos di media. Masyarakat hanya lebih tahu perkembangan politik di Indonesia saja dibandingkan perekonomian sekarang ini. Kendala UMKM di Indonesia hanyalah pada perizinan dan permodalan. Pemerintah harus membuat regulasi untuk UMKM agar dapat tumbuh secara konstan, yaitu dengan menurunkan tingkat bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga 9 persen per tahun. Di samping itu, pemerintah juga perlu memerhatikan potensi Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia yang melimpah mengingat Indonesia adalah negara tropis yang seharusnya mampu untuk memproduksi buah lokal secara massal. Namun, Indonesia tidak boleh melihat peluang tersebut dengan memproduksi buah yang terlihat biasa saja bagi konsumen. Mungkin bagi konsumen dalam negeri, mereka akan menyukai buah apapun juga asalkan rasanya sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia. Indonesia mulai memasuki era baru, yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN (disingkat MEA). Indonesia perlu melihat kriteria konsumen luar negeri dalam melirik pasar Indonesia, seperti dari segi kekhasan rasa, kemasan, ketahanan produk, hingga promosi yang baik. UMKM harus memiliki kemampuan memodifikasi suatu produk lokal menjadi sesuatu yang bernilai tinggi bagi mereka dan tetap memerhatikan kondisi buah tersebut apakah dapat bertahan lama atau tidak jika berada di negara yang berbeda terutama negara subtropis. Untuk mendapatkan buah yang dimodifikasi tersebut, perlu adanya pemahaman yang baik pada petani lokal mengenai lingkungan tropis dan subtropis, serta sosialisasi yang baik mengenai kemasan yang tahan lama dan ramah lingkungan dengan biaya minimal.
Tidak hanya bidang perkebunan lokal saja, bidang perikanan juga mendominasi perekonomian Indonesia berkat UMKM. Namun, contoh ini mengacu pada kinerja perusahaan, bukan hanya sekadar orientasi pasar seperti contoh sebelumnya mengenai buah lokal Sumber Sae. Contohnya adalah usaha yang dirintis oleh Pak Nurhadi. Beliau keluar dari perkerjaannya sebagai karyawan biasa di suatu perusahaan dan mulai merintis perusahaan milik sendiri. Perusahaan tersebut bernama PT Parlevliet Paraba Seafood yang berlokasi di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Perusahaan tersebut mengolah ikan tuna karena di daerahnya merupakan daerah penghasil ikan terbanyak di Indonesia. Pak Nurhadi awalnya berwirausaha hanya bermodal 4 juta. Dengan modal 4 juta, beliau kesulitan dalam permodalan karena tidak ada jaminan dalam pengajuan kredit usaha ke bank. Tetapi, beliau dibantu oleh bank swasta pada tahun 2012 melalui investasi untuk mendapat jaminan. Ditambah lagi, kejelian Pak Nurhadi dalam melihat peluang produk perikanan lokal pada ruang lingkup global, beliau mampu memproduksi ikan tuna dengan modifikasi yang dilakukannya, antara lain Tuna Lion segardan beku, tuna steak, tuna saku, kakap merah fillet, gold banded fillet, dan mahi-mahi fillet. Penghasilan beliau yang pada awalnya hanya Rp 5 juta-10 juta per tahun saat mengirimkan ikan-ikan biasa antar pulau di Indonesia, sekarang beliau mampu meraih omset Rp 40 milyar per tahun karena orientasi pasar sudah menembus negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa. Bahkan, beliau mendapatkan juara I kategori UKM Pengolahan Hasil Perikanan Terbaik Skala Menengah.
Dari dua contoh bisnis UMKM di atas, Indonesia memiliki banyak penduduk yang sudah maju dalam bidang kewirausahaan akibat dari ledakan penduduk berusia produktif. Kemajuan dalam bidang-bidang tersebut juga menghasilkan masalah baru, yaitu penggunaan plastik sebagai kemasan. Kita sudah tahu bahwa Indonesia sudah baik dalam membangun bisnis yang secara positif dapat memperkecil jurang sosial dan ekonomi antara orang kaya dan miskin. Namun, tata cara, bahan baku, bahan pendukung yang dilakukan UMKM dalam memproduksi produk mereka masih kurang baik. Salah satunya adalah penggunaan plastik yang sering kita gunakan setelah membeli suatu produk. Hal ini sudah dianggap biasa oleh masyarakat awam yang (mungkin) sudah tahu buruknya penggunaan plastik bagi lingkungan Indonesia. Namun, para pelaksana UMKM ini lebih mudah dalam mendapatkan plastik dibandingkan goodie bag. Goodie bag hanya digunakan di supermarket ataupun market tertentu saja karena harganya yang cukup mahal.
Plastik sering digunakan oleh masyarakat Indonesia dalam berbagai hal terutama proses produksi. Produksi botol minum, tempat makan, alat makan, alat mandi, bahkan bando dan gelang adalah berbahan plastik yang bersifat kaku dan mudah dibentuk. Ketahanan plastik berbeda-beda, ada yang mudah meleleh, ada yang tidak bahkan pada suhu didih sekalipun. Di balik kelebihan penggunaan plastik untuk kebutuhan hidup masyarakat, ada kekurangan yang cukup berpengaruh bagi lingkungan. UMKM sering menggunakan plastik sebagai pembungkus makanan dan minuman. Padahal, proses pembuatan plastik memerlukan bahan kimia yang membahayakan jika digunakan untuk menyimpan makanan dan minuman dalam waktu yang lama. Semakin tinggi suhu makanan dan minuman, plastik semakin mampu untuk memindahkan bahan kimia langsung pada makanan dan minuman tersebut sehingga menjadi tidak sehat lagi.
Menurut referensi lain, penggunaan plastik untuk produksi kebutuhan hidup kita juga ada batas pemakaiannya bergantung pada simbol yang berbentuk segitiga yang menunjukkan ciri-ciri plastik yang digunakan. Masyarakat perlu memahami setiap simbol yang digunakan sehingga masyarakat tidak terpapar langsung bahan kimia yang berasal dari plastik. Cukup sulit untuk membangun suatu bisnis ramah lingkungan tanpa plastik mengingat kebutuhan manusia semakin banyak setiap tahunnya.
Selain berasal dari bahan kimia, plastik juga berasal dari pengolahan minyak bumi. Pengolahan minyak bumi ini dilakukan secara distilasi pada titik didih maksimal 36-270 derajat celcius. Oleh karena itu, pembakaran plastik yang dilakukan lagi tidak akan memiliki nilai manfaat karena hanya akan menghasilkan abu dan asap. Kebanyakan masyarakat Indonesia melakukan pembakaran plastik demi mengurangi limbah plastik yang mencemari tanah. Limbah plastik merupakan limbah yang sulit terdegradasi karena struktur pembentuknya yang cukup padat. Jika limbah plastik dibakar, tentu akan menghasilkan polusi udara. Terlebih lagi, plastik hanya dibiarkan berserakan di lingkungan seperti pedesaan. Apabila dibuang, plastik hanya sampai pada pembuangan sampah di TPA saja.  Padahal, plastik perlu dilakukan pemanfaatannya secara sistematis melalui 3R (Reduce, Reuse, Recycle) hingga menghasilkan produk yang lebih ramah lingkungan. Apabila para penjual dan pembeli masih menggunakan plastik kresek sebagai pembungkus makanan dan minuman, perlu adanya penggantian penggunaannya dengan tas kain. Hal ini dikarenakan tas kain merupakan hasil daur ulang barang-barang yang sudah tidak bermanfaat. Walaupun terdengar biasa, sudah banyak penjual menyadari bahaya plastik kresek (terutama jika berwarna selain bening) sehingga penjual lebih nyaman menggunakan tas kain demi keselamatan konsumen.
Indonesaia mengalami kedaruratan dalam hal sampah plastik. Sampah plastik digunakan secara masif sehingga mencemari wilayah pinggir pantai. Misalnya di Surabaya. Pinggir pantai timur Surabaya sudah tercemar oleh berbagai jenis sampah. Sebanyak 14% sampah di pinggir pantai timur Surabaya adalah sampah plastik. Secara umum, komposisi sampah terbanyak kedua di pinggir pantai adalah sampah plastik yang berkisar antara 60-70%. Hal ini sesuai antara pernyataan umum dan keberadaan di lapangan. Berdasarkan Jambeck (2015), Indonesia menjadi peringkat dua dunia setelah China menghasilkan sampah plastik di perairan mencapai 187,2 juta ton.
Penyelesaian mengenai sampah plastik perlu diselesaikan setiap segi. Pada bidang perkebunan lokal, diperlukan adanya kemasan yang tidak mudah rusak dan tahan lama. Tidak dibenarkan dalam penggunaan plastik sebagai penyimpan buah karena bahan kimia yang terkandung dalam plastik mampu membusukkan buah secara bertahap. Walaupun begitu, tampilan pada kemasan tetap dibuat dengan menarik.
Indonesia menggantungkan pendapatan terbesar pada bidang perikanan mengingat Indonesia adalah negara maritim. Pada bidang perikanan, di samping manfaat produk lokal seperti ikan tuna, ikan salmon, dan udang untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat dan meningkatkan kebutuhan pangan dalam negeri tanpa impor, penggunaan kemasan perlu diperhatikan. Sifat ikan adalah lunak, licin, dan mudah rusak. Maka, pertimbangan yang dilakukan meliputi ketahanan ikan dengan kemasan tersebut, bahan kimia yang terkandung dalam kemasan, dan efektivitas dalam membawa barang-barang yang mudah terjadi tumpah dan rusak seperti makanan dan minuman dalam waktu yang cukup lama sehingga terkadang menjadi kurang segar.
UMKM ramah lingkungan adalah UMKM yang menggunakan biaya bahan baku, bahan pendukung, dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang seminimal mungkin. Namun, dengan adanya 3 hal penting tersebut tetap dapat menghasilkan produk yang semaksimal mungkin dalam segi kualitas dan kuantitas. Pernyataan tersebut sesuai dengan hukum ekonomi. Apabila masyarakat Indonesia banyak yang berkeinginan menjadi wirausahawan, bukan tidak mungkin perekonomian di Indonesia menjadi nomor satu di Asia Tenggara pada tahun 2020. Dengan jumlah penduduk muda terbesar di dunia, Indonesia mampu bersaing secara global dengan negara-negara besar seperti China dan India terutama dalam pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) secara berkelanjutan dengan cara-cara yang lebih produktif, kreatif, inovatif, dan tetap ramah lingkungan. Diharapkan dengan adanya penggunaan goodie bag sebagai pengganti sampah plastik akan mengurangi penggunaan minyak bumi dan bahan kimia yang berpotensi mencemari tanah, udara, dan air. Gerakan penggunaan goodie bag hanya dapat terwujud apabila adanya kesadaran dari diri sendiri dan adanya pembatasan penggunaan sampah plastik di kalangan UMKM oleh pemerintah karena masyarakat dewasa ini lebih cenderung membeli makanan dan minuman, bahkan untuk membeli kebutuhan lain yang lebih penting karena lebih murah dari segi harga dan mudah dari segi akses.

Referensi :
·         Anonim (2015). 5 Negara Ekonomi Terbaik di Asia Tenggara (Disertai Pendapatan Perkapitanya). Diakses 5 Novermber 2018, dari https://ilmugeografi.com/ilmu-sosial/negara-ekonomi-terbaik-di-asia-tenggara
·         Sulistyo, Nur (Juli, 2016). Perlindungan dan Pengembangan Usaha Mikro Kecil Bidang Perikanan sebagai Uoaya Pengendalian Pencemaran Wilayah Pesisir dan Laut. Diakses 5 November 2018, dari jhli.icel.or.id/index.php/jhli/article/download/33/37
·         Merina, Nely (September, 2016). Pengertian UKM & UMKM ? Bagaimana Usaha Kecil Menengah di Indonesia. Diakses 5 November 2018, dari http://goukm.id/apa-itu-ukm-umkm-startup/
·         Dwi, Hikhman (Agustus, 2017). 3 Peran Penting UMKM. Penggerak Penting Ekonomi Indonesia. Diakses 5 November 2018, dari https://www.kompasiana.com/hikhman/599eabfae728e442d60622e2/3-peran-penting-umkm-penggerak-penting-ekonomi-indonesia
·         Tanjung, Azrul (2018). Koperasi dan UMKM. Diakses 5 November 2018, dari http://www.erlangga.co.id/bahasasospol/9419-koperasi-dan-umkm.html
·         Anonim (Mei, 2016). Produk Lokal Merebut Pasar Internasional. Diakses 5 November 2018, dari http://www.presidenri.go.id/berita-aktual/produk-lokal-merebut-pasar-internasional.html
·         Deny, Septian (Desember, 2015). Pria Ini Sukses Berbisnis Ikan Olahan Beromset Rp 40 Miliar. Diakses 5 November 2018, dari https://www.google.com/amp/s/m.liputan6.com/amp/2388635/pria-ini-sukses-berbisnis-ikan-olahan-beromset-rp-40-miliar
·         Anonim (2017). Proses Pembuatan Plastik dalam Industri dan Kertas. Diakses 5 November 2018, dari http://distributorplastikjakarta.weebly.com/proses-pembuatan-plastik-dalam-industri-dan-bisnis-plastik-top-sellers.html
·         Setyo, Prast (April, 2010). Kurangi Penggunaan Tas Kresek. Diakses 5 November 2018, dari https://www.kompasiana.com/setyo.prast/54ffaa9da33311c24f510847/kurangi-penggunaan-tas-kresek
·         Sari, Gina Lova (April, 2018). Kajian Potensi Pemanfaatan Sampah Plastik menjadi Bahan Bakar Cair. Diakses 5 November 2018, dari https://www.researchgate.net/publication/324602791_KAJIAN_POTENSI_PEMANFAATAN_SAMPAH_PLASTIK_MENJADI_BAHAN_BAKAR_CAIR           
·         Purwaningrum, Pramiati (Desember, 2016). Upaya Mengurangi Timbulan Sampah di Lingkungan [pdf]. Jakarta : Universitas Trisakti
·         Anonim (unidentified). Bab 1 Pendahuluan [pdf]. Jakarta : tidak diketahui

Komentar