Perkembangan zaman terus mengubah gaya
hidup laki-laki baik kemudahan maupun tantangan. Sebagai contoh, laki-laki membeli
makanan cepat saji di luar hanya dengan gadget
di tempat kerja. Mereka sering tidak memperhatikan kandungan pada makanan
karena berorientasi pada rasa kenyang. Apabila tidak diiringi dengan aktivitas
fisik yang cukup (misalnya berjalan kaki menuju tempat kerja), tantangan yang
muncul adalah Penyakit Tidak Menular (PTM) sebagai akibat dari globalisasi,
urbanisasi, dan modernisasi. Kegiatan yang sudah disebutkan sebelumnya banyak
terjadi di negara-negara yang selalu berkembang, terutama di perkotaan yang
sibuk menurut data Riskesdas tahun 2007. Berdasarkan penelitian, negara-negara
berkembang dan menengah mengalami beban ganda pada status kesehatan masyarakat,
yaitu penyakit menular yang berkurang dan penyakit tidak menular yang terus
bertambah. Faktor yang menyebabkan penyakit tidak menular terdiri atas faktor
yang sulit untuk dicegah (usia, jenis kelamin, dan keturunan) dan faktor yang
mudah untuk dicegah (gaya hidup). Berdasarkan penelitian di Brazil, usia
produktif laki-laki sekitar 14-19 tahun yang mengalami penyakit tidak menular
paling banyak disebabkan oleh faktor yang mudah untuk dicegah (gaya hidup)
seperti konsumsi alkohol yang berlebihan (49,3 %), kurangnya melakukan
aktivitas fisik (22,2 %), merokok (21,7 %), perilaku menetap dan diet yang
tidak sehat (3,1 %). Sedangkan, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Universitas Halu Oleo, Sulawesi Tenggara, konsumsi alkohol yang berlebihan pada
mahasiswanya belum menjadi faktor risiko yang besar karena perbedaan gaya hidup
antara Brazil yang mengikuti gaya hidup Barat dan Indonesia yang mengikuti gaya
hidup Timur.
Terdapat empat penyakit tidak menular yang
memiliki risiko kematian yang terbesar pada usia produktif khususnya laki-laki
di Asia Tenggara seperti Indonesia, yaitu penyakit kardiovaskular sebanyak 17,5
juta pertahun, diikuti oleh penyakit kanker sebanyak 8,2 juta pertahun,
penyakit pernapasan 4 juta pertahun, dan diabetes sebanyak 1,5 juta pertahun. Penelitian
yang dilakukan di Brazil mewakili Indonesia pada urutan penyebab penyakit tidak
menular seperti aktivitas fisik yang kurang, kebiasaan merokok, dan diet yang
tidak sehat. Penyebab penyakit tidak menular di Indonesia diperkuat lagi oleh
pernyataan WHO karena sering dilakukan oleh laki-laki Indonesia yang perlu
menjadi perhatian pada peringatan Men’s Health Week.
Remaja pria yang melakukan ketiga gaya hidup tersebut dapat berpengaruh pada penyakit kardiovaskular di usia 35-44 tahun dan sebanyak 55 % pria mengalami kematian pada usia lebih dari 65 tahun. Menurut WHO, penyakit kardiovaskular adalah penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah, contohnya jantung koroner, gagal jantung, hipertensi, dan stroke. Sebanyak 80 % penyakit kardiovaskular menyumbang kematian pada dua penyakit utama, yaitu jantung koroner dan stroke (WHO, 2009).
Jantung koroner merupakan penyakit
jantung utama. Penyakit ini ditandai dengan keluhan khas dengan rasa sakit
terhimpit benda berat di dada kiri yang menjalar ke punggung dan lengan serta
keluhan tidak khas seperti nyeri ulu hati, sakit punggung, sakit rahang, dan
sesak napas. Faktor utama dari jantung koroner adalah hipertensi. Tekanan darah
tinggi atau hipertensi berawal dari kegemukan atau obesitas yang banyak terjadi
pada laki-laki. Obesitas termasuk gangguan metabolisme pada sistem pencernaan
karena sisa makanan (umumnya makanan yang mengandung karbohidrat) yang tidak
terserap oleh tubuh masuk ke dalam hati membentuk lemak sehingga menumpuk pada
sistem peredaran darah yang membentuk plak. Adanya plak yang menumpuk di
endotel vaskular arteri menyebabkan oksigen sulit menembus pembuluh darah
sehingga terjadi kerusakan. Makanan berlemak dapat menyumbang terjadinya
pembentukan plak atau yang disebut aterosklerosis jika tidak diiringi dengan
pembakaran lemak kembali melalui aktivitas fisik. Selain itu, faktor
selanjutnya yang berhubungan adalah hiperkolesterol. Hiperkolesterol merupakan
penyakit yang terjadi saat kolesterol baik atau HDL (High Density Lypoprotein) rendah. HDL yang tinggi akan membantu
membawa kolesterol/lemak menuju hati untuk dibuang. Kebiasaan merokok pada
laki-laki membawa zat-zat yang mudah menempel pada dinding pembuluh darah
seperti nikotin sehingga memengaruhi terjadinya hiperkolesterol, disfungsi
ereksi, dan faktor genetik khususnya kromosom Y pada laki-laki yang lebih mudah
bermutasi daripada kromosom X. Berdasarkan literatur, perokok aktif sebanyak
dua bungkus dapat memperpendek usia sebanyak 8 tahun dan perokok pasif dapat
memperpendek usia sebanyak 4 tahun. Kebanyakan laki-laki khususnya remaja yang
merokok banyak disebabkan oleh rasa ingin tahu yang tinggi tanpa adanya ilmu
dari orang tuanya, terlebih lagi orang tuanya yang juga perokok aktif. Penyakit
jantung koroner dapat ditandai dengan adanya disfungsi ereksi pada laki-laki
dewasa karena adanya pembuluh darah koroner dalam jumlah banyak. Pembuluh darah
penis yang memiliki diameter sepertiga dari pembuluh darah koroner pada umumnya
dapat mengalami penyempitan yang menyebabkan darah sulit mengalir sehingga terjadi
impotensi atau penurunan suplai darah di penis, terlebih lagi dua atau lebih
pembuluh koroner di penis yang menyempit. Sebuah studi menunjukkan bahwa
disfungsi ereksi menyebabkan jantung koroner sekitar dua atau tiga tahun
berikutnya bahkan kematian mendadak.
Gaya hidup yang tidak sehat pada pria tidak
bisa hanya diubah melalui bantuan obat karena memiliki efek samping lain
terutama penyakit hati apabila dilakukan secara berlebihan. Para peneliti di
UCLA David Geffen School of Medicine pun mencoba rekayasa genetika pada buah
tomat yang kaya antioksidan, seperti karotenoid, vitamin E, vitamin C, dan likopen.
Likopen termasuk antioksidan kuat yang sangat dibutuhkan oleh tubuh dari
penyakit kardiovaskular. Tomat hasil rekayasa genetika ini dikenal sebagai
tomat 6F. Tomat 6F menghasilkan peptida (senyawa asam amino) yang bekerja
mencegah aterosklerosis dengan jumlah minimal 2,2 % dari total diet yang
dibutuhkan. Peptida pada tomat 6F meniru aksi pengurangan plak ApoA-1, yang
menjadi protein utama dalam HDL (High
Density Lypoprotein). Seperti pembahasan sebelumnya mengenai HDL, kolestrol
yang menumpuk menjadi plak tersebut akan dihilangkan oleh hati sehingga
mencegah hipertensi dan hiperkolesterol. Bahkan, pembuluh darah arteri
khususnya pada bagian koroner yang sudah bersih dari plak akan membentuk sistem
peredaran darah yang sehat mengalirkan darah dalam jumlah yang sesuai pada
penis sehingga mencegah terjadinya disfungsi ereksi. Tomat 6F diujicoba dengan
menggunakan tikus putih (Lycopersicon
esculentum) melalui pembekuan kering dan penggilingan. Tikus putih yang
memiliki kemampuan rendah dalam menghilangkan LDL (Low Density Lypoprotein) atau diberi pakan hiperkolestrolemik
diteliti melalui pemberian ekstrak buah tomat pada dinding arteri koronaria.
Hasil penelitian terhadap ketebalan dinding arteri koronaria dapat dilihat pada
gambar di bawah :


Dapat disimpulkan bahwa memakan tomat 6F
hasil rekayasa genetika (tanpa diisolasi dan dimurnikan) sebanyak 20 mg/kg BB
atau lebih mampu menghilangkan plak yang mengandung kolestrol LDL yang sudah
teroksidasi melalui hati. Hal ini terbukti dengan ketebalan arteri koronaria
yang semakin menurun seiring bertambahnya ekstrak tomat. Pada kontrol positif
tanpa pakan hiperkolesterolemik, kita dapat mengetahui bahwa kolesterol LDL
dapat masuk walaupun tidak adanya risiko makanan berlemak. Selain itu, tomat
tersebut juga mampu meningkatkan aktivitas paraoxonase (paraoxonase terjadi
pada saat risiko jantung koroner rendah) dan menurunkan asam lysophospatidic
sebagai asam yang mempercepat pembentukan plak. Tomat hasil rekayasa genetika
ini direkomendasikan untuk mencegah penyakit jantung koroner pada pria dan
tetap diiringi dengan mengurangi kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol,
dan memperbanyak makan makanan berserat dan mengandung gizi seimbang.
DAFTAR PUSTAKA
Pusat Data dan
Informasi Kementerian Kesehatan RI. 2013. Situasi
Kesehatan Jantung. Majalah Infodantin.
Yahya, Fauzi.
2010. Menaklukkan Pembunuh No. 1 :
Mencegah dan Mengatasi Penyakit Jantung Koroner secara Tepat dan Cepat.
Bandung : PT Mizan Pustaka
Irfa, Aziza A.
2011. “Gambaran Prevalensi dan Risiko Penyakit Kardiovaskular pada Penduduk
Dewasa di Provinsi DKI Jakarta”. Skripsi.
Universitas Indonesia
Selamet, Sugito,
dan Dasrul. 2013. The Effect of Tomato Extract (Lycopersicon Esculentum) On The Formation of Atherosclerosis in
White Rats (Rattus Norvegicus) Male. Jurnal Natural. 13(2) : 5-9
Antimas, Nur
Agusti, dkk. 2017. Survei Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular pada Mahasiswa
Universitas Halu Oleo. Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Kesehatan Masyarakat. 2(6) : 1-13
Rosjidi, Cholik
Harun dan Laily Isro’in. 2014. Perempuan Lebih Rentan Terserang Penyakit
Kardiovaskular. Jurnal Florence. 7(1)
: 1-10
Tan, Victoria.
2018. Penyakit Kardiovaskular –
Hubungannya dengan Disfungsi Ereksi, Pernikahan, dan Ilmu Genetika. Diakses
pada 21 Juni 2019, dari https://today.mims.com/hubungan-penyakit-kardiovaskular-dengan-disfungsi-ereksi-pernikahan-dan-ilmu-genetika
Wahid, Ismi.
2012. Tomat Rekayasa Genetik Kurangi
Risiko Jantung. Diakses pada 21 Juni 2019, dari https://gaya.tempo.co/read/440289/tomat-rekayasa-genetik-kurangi-risiko-jantung
American Heart
Association. 2012. Tomat Transgenik dan Bakteri Bermanfaat Diklaim Menurunkan
Kolesterol. Diakses pada 21 Juni 2019, dari
https://id.inforandum.com/gm-tomatoes-helpful-bacteria-claimed-lower-cholesterol-76626

Komentar
Posting Komentar