Zinc dalam TRI3P pada Remaja Pria


Setiap orang memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang. Apabila seseorang mengalami kedua hal secara beriringan, orang tersebut dapat dikatakan sehat. Oleh karena itu, gizi seseorang memiliki faktor utama pada makanan sehat karena kandungan zat dapat berguna dalam melaksanakan aktivitas, terutama bagi para remaja. Kejadian malnutrisi dan infeksi pada masa anak-anak akan berpengaruh pada status kesehatan pada masa remaja. Remaja adalah fase peralihan dari anak-anak menuju kedewasaan. Orang yang mengalami fase peralihan ini mengalami pertumbuhan seperti tinggi badan, berat badan, dan lingkar pinggang serta perkembangan seperti kematangan reproduksi. Hal ini sering disebut dengan pubertas atau disebut sebagai growth spurt. Namun, yang perlu diingat adalah remaja putri dan remaja putra mulai mengalami pubertas di usia yang berbeda walaupun proses pubertas tetap bergantung pada aktivitas dan pola makan. Remaja putri mengalami pubertas lebih cepat daripada remaja pria, yaitu pada usia 10-12 tahun yang ditandai dengan menstruasi, payudara membesar, dan pertumbuhan rambut pada bagian tertentu. Sedangkan remaja pria mengalami pubertas pada usia 12-14 tahun yang ditandai dengan mimpi basah, perkembangan genital, dan pembesaran tulang.
Menurut Menteri Kesehatan RI, fase remaja merupakan fase yang paling sehat. Hal ini dibuktikan dengan pasien remaja di fasilitas kesehatan yang lebih sedikit dibandingkan pasien bayi, balita, dan lansia. Akan tetapi, permasalahan yang terjadi pada remaja terletak pada psikologis. Rasa keingintahuan yang tinggi tanpa disertai pengetahuan sebelumnya mengenai gizi membuat remaja hanya melakukan imitasi terhadap tren makanan terkini tanpa melihat kandungan gizinya. Ditambah lagi, kebiasaan buruk yang dilakukan pada remaja zaman sekarang seperti penyalahgunaan narkoba, kecanduan alkohol dan rokok, dan hubungan seksual akan menambah beban kesehatan remaja di masa tuanya. Berdasarkan alasan tersebut, remaja harus mengetahui gizi secara komprehensif dengan melihat khasiat dari zat gizi pada makanan baik makro maupun mikro bagi pertumbuhan dan perkembangannya. Pada esai ini, penulis memberikan pengetahuan mengenai pentingnya Zinc (Seng) sebagai zat gizi mikro bagi remaja pria mengingat zat tersebut tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kalsium dan zat besi sebagai growth factor.
Seng merupakan zat gizi mikro yang terkandung pada makanan dan suplemen dalam jumlah yang banyak. Seng dibutuhkan oleh hampir seluruh sel tubuh terutama tulang dan otot (kecuali sel darah merah yang hanya membawa zat besi untuk mengangkut oksigen). Tanpa disadari, banyak seng yang dikonsumsi dari makanan berprotein seperti daging, hati, ayam, telur, kerang, ranjungan, lobster, dan ikan salmon. Selain itu, golongan serealia dan kacang-kacangan juga mengandung seng tetapi tidak terserap seluruhnya dalam tubuh. Pola makan yang kurang bernutrisi seng mampu diimbangi dengan konsumsi suplemen. Seng bersifat co-factor bagi 100 enzim baik katalitik, pengaturan struktural, maupun non-katalitik yang bertugas pada sintesis protein, khsuusnya protein pengangkut besi (metalloprotein). Menurut suatu penelitian, kekurangan seng dapat mematikan sekitar 800.000 anak di dunia per tahun. Tanda-tanda kekurangan seng pada remaja pria antara lain pertumbuhan tinggi badan yang terhambat, gangguan produksi sperma, dan mudah terserangnya penyakit. Angka kecukupan gizi (AKG) seng untuk remaja pria adalah 12-17 mg per hari dan dapat berubah berdasarkan usia 10-18 tahun dan kondisi kesehatan remaja tersebut. Walaupun kandungan seng lebih sedikit, khasiatnya membantu remaja pria dalam tumbuh kembangnya, seperti yang penulis kembangkan dalam TRI3P Remaja Pria yang merepresentasikan tiga manfaat (Pertumbuhan Tulang, Perkembangan Reproduksi, dan Peningkatan Imunitas).
Manfaat zinc pertama pada remaja pria adalah pertumbuhan tulang. Secara psikologis, remaja pria cenderung memperhatikan penampilan fisik setelah melihat temannya yang lebih tinggi sehingga mereka tidak percaya diri. Tinggi badan remaja pria yang pubertas akan meningkat secara terus-menerus sekitar 9,5 cm hingga usia 20 tahun walaupun tingkat pertumbuhan tinggi badan akan semakin menurun. Pertumbuhan tersebut ditandai dengan pembelahan sel secara mitosis untuk menghasilkan Deoxyribonucleic acid (DNA), Ribonucleic Acid (RNA), dan protein seperti DNA polimerase. Seng berinteraksi hormon pertumbuhan tulang seperti hormon samatomedin-c, osteocalcin, hormon tiroid, hormon testosteron, dan hormon insulin. Proses peningkatan konsentrasi terjadi secara hormonal, terutama Growth Hormon (GH) yang disekresi dari kelenjar pituitari kaya seng untuk menyintesis hormon IGF-1 (Insulin-like Growth Factor-1) atau hormon samatomedin-c di hati. Hormon IGF-1  mengaktivasi insulin response substrates-1/2 (IRS-1/2) melalui reseptor IGF untuk memicu proliferasi sel. Hormon tersebut menyebabkan matriks tulang menguat akibat metabolisme protein sehingga terhindar dari osteoporosis di masa tua. Pada masa remaja, konsentrasi hormon IGF-1 mencapai puncaknya dan menurun pada masa dewasa. Berdasarkan penelitian metaanalisis (Brown, 2010), pemberian suplementasi seng pada usia 12 tahun atau permulaan masa pubertas menyebabkan peningkatan tinggi sekitar 0,35 cm. Sedangkan, menurut penelitian lain (Hidayati, 2010), defisiensi seng dapat berpeluang 2,67 kali mengalami stunting atau perawakan pendek pada remaja. Angka stunting yang tinggi menunjukkan tingkat kepedulian gizi yang rendah. Secara tidak sadar, remaja pria Indonesia tergolong stunting. Rata-rata remaja pria Indonesia memiliki tinggi yang tidak sesuai dengan standar WHO, yaitu 12,5 cm lebih pendek. Dalam jangka pendek, remaja pria yang mengalami stunting akan mudah mengalami obesitas jika tidak memiliki pengetahuan mengenai gizi. Padahal, penyakit tidak menular di masa sekarang banyak disebabkan oleh obesitas. Oleh karena itu, pertumbuhan tinggi badan perlu direncanakan mulai dari masa anak-anak yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel tulang sekitar 45 % dan dilanjutkan dengan masa remaja yang mengalami pertumbuhan massa tulang dewasa sekitar 45 %.
Selanjutnya, zinc dapat bermanfaat dalam perkembangan reproduksi remaja pria. Pubertas pada pria ditandai dengan mimpi basah atau pengeluaran air mani. Awalnya, seng terkonsentrasi di otak pada bagian kelenjar pineal dan kelenjar hippokampus sebagai tempat berpusat rasa gairah dan emosi. Kemudian, seng berinteraksi dengan aliran darah yang menjadi syarat terjadinya ereksi. Apabila aliran darah tersebut mengalami kekurangan seng, remaja pria tersebut akan mengalami infertilitas atau ketidaksuburan. Pelebaran pembuluh darah vena yang menuju testis akan menambah karbon dioksida yang masuk sehingga meningkatkan suhu testis. Peningkatan suhu pada testis akan mengurangi jumlah sperma yang dihasilkan. Akibatnya, radikal bebas pun muncul dalam bentuk Reactive Oxygen Species (ROS) terutama pada remaja pria yang sering mengantungi handphone di saku celana. Handphone memiliki Radiofrequency electromagnetic fields dengan frekuensi 400 MHz-2000 MHz yang memicu ROS jika tidak memiliki asupan zinc. Defisiensi seng akan mengakibatkan terganggunya produksi hormon testosteron pada sel leydig. Testis sebagai organ seks sekunder utama pun tidak berkembang. Oleh karena itu, asupan seng harus ditambah sehingga seng terkonsentrasi pada testis menghasilkan hormon testosteron yang memengaruhi libido remaja pria dalam menghasilkan sperma. Berdasarkan penelitian, peningkatan zinc berbanding lurus dengan peningkatan motilitas (pergerakan) sebesar 40 % dengan 25 % sperma memiliki laju pergerakan yang cepat dan morfologi (bentuk) sperma dengan minimal 30 % total sperma berbentuk normal. Hal ini dapat dibuktikan melalui peningkatan air mani setelah mengalami ereksi. Menurut WHO, volume air mani yang normal untuk dikeluarkan berkisar 1,5-5 ml dengan kandungan sperma minimal 20 juta.
Terakhir, remaja pria yang mendapat asupan zinc akan meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, remaja memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih cepat merespon kondisi tubuh daripada masa anak-anak. Namun, permasalahan yang dimiliki oleh remaja memengaruhi psikologis lebih cepat akibat tingkat manajemen stres yang rendah, misalnya kesibukan aktivitas di sekolah yang menyebabkan remaja menjadi kurang produktif dalam menjalani hobi atau waktu luang. Padahal, produktivitas yang baik dapat memacu semangat remaja untuk mencapai jati dirinya. Remaja pria memiliki sistem kekebalan tubuh yang berbeda daripada remaja perempuan berdasarkan sel mast yang dimilikinya. Sel mast dapat menjadi penyelamat karena menjadi sel imun pertama yang merespon terhadap infeksi. Sebaliknya, sel mast dapat menjadi sumber masalah karena menghasilkan terlalu banyak zat anti inflamasi seperti histamin, protease, dan serotonin sehingga gejala penyakit akan mudah timbul. Walaupun sel mast dua jenis kelamin tersebut berasal dari gen kromosom yang sama, jumlah sel mast pada pria lebih sedikit daripada jumlah sel mast pada perempuan. Hal ini menyebabkan remaja pria yang mengalami penyakit imun akan lebih mudah mengalami kematian. Oleh karena itu, seng akan meningkatkan sel mast sebagai anti inflamasi. Contoh penyakit imun yang sering terjadi akibat stres adalah diare. Diare menjadi penyakit utama bagi infeksi saluran cerna, tepatnya di bagian usus halus. Sekresi usus halus banyak dipengaruhi oleh sel darah putih sehingga seng berperan penting dalam pembentukan limfosit T dan B yang terkandung di dalamnya. Defisiensi seng menyebabkan apoptosis pada sel darah putih karena hormon glukokortikoid yang menghambat pembentukan limfosit sehingga protein tidak dapat disintesis. Limfosit yang kurang akan merusak epidermis dan mukosa  saluran cerna sehingga memudahkan invasi kuman pada saluran cerna (Fedriyansyah, 2010).
Berdasarkan tiga manfaat tersebut, zinc (seng) menjadi zat gizi mikro yang vital dalam tumbuh kembang remaja pria karena mereka berada pada masa peralihan yang perlu dibimbing secara perlahan oleh orang tua mengenai gizi remaja yang baik khususnya zat gizi yang bersifat mikro karena tidak dapat dianggap kecil bagi berlangsungnya kehidupan. Perubahan fisik dan psikologis pada remaja pria harus ditangani dengan baik melalui nutrisi yang lebih spesifik daripada anak laki-laki. Variasi waktu menuju kedewasaan setiap remaja pria berbeda-beda. Orang tua disarankan dalam mengerti kebutuhan gizi anak remaja mereka yang semakin bertambah seiring pertambahan umur, berat badan, dan tinggi badan agar terwujudnya generasi milenial yang memiliki postur tubuh yang proporsional sesuai usianya, terhindar dari penyakit menular seksual (PMS), dan tidak mudah sakit akibat perubahan tingkat aktivitas yang lebih ekstrim dibandingkan remaja perempuan.


Daftar Pustaka

Sumanto, Agus. 2009. Tetap Langsing dan Sehat dengan Terapi Diet. Jakarta : AgroMedia Pustaka
Maita, Liva, dkk. 2019. Gizi Kesehatan pada Masa Reproduksi. Sleman : Deepublish
Banowati, Lilis. 2019. Ilmu Gizi Dasar. Sleman : Deepublish
Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI (Mei, 2018). Menkes : Remaja Indonesia Harus Sehat. Dilihat 09 Juli 2019, http://www.depkes.go.id/article/view/18051600001/menkes-remaja-indonesia-harus-sehat.html
Erlita (Mei, 2016). Zinc : Pengertian – Fungsi – Efek Kekurangan dan Kelebihan – Makanan. Dilihat 09 Juli 2019, https://halosehat.com/gizi-nutrisi/mineral/zinc
Dewantari, Ni Made. 2013. Peranan Gizi dalam Kesehatan Reproduksi. Jurnal Skala Husada. 10 (2) : 219-224
Rohma, Ana (Januari, 2016). 15 Fungsi Zinc Bagi Tubuh Manusia. Dilihat 09 Juli 2019, https://halosehat.com/gizi-nutrisi/panduan-gizi/fungsi-zinc
Budiasih, Kun Sri. 2011. “Interferensi Ion Cd (II) dan Hg (II) terhadap Biofungsi Persenyawaan Zn (II) pada Tubuh Manusia”. Jurdik Kimia Prosiding Seminar Nasional Penelitian. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNY. Yogyakarta
Mulyani, Erry Yudhya, dkk. 2014. “Analisis Asupan Zinc dan Kalsium terhadap Status Gizi Anak Sekolah Usia 7-12 Tahun di Provinsi Banten”. Seminar Kongres Internasional. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul. Jakarta
Agustian, Leon, dkk. 2009. Peran Zinkum terhadap Pertumbuhan Anak. Sari Pediatri. 11 (4) : 244-249
Kusudaryati, Dewi P.D, dkk. 2017. Pengaruh Suplementasi Zn terhadap Perubahan Indeks TB/U Anak Stunted Usia 24-36 Bulan. Jurnal Gizi Indonesia. 5 (2) : 98-104
Rahmawati, Dinar Putri. 2017. “Perbedaan Kecukupan Protein, Zinc, Kalsium, dan Vitamin D pada Remaja Putri Stunting dan Non-Stunting di SMPN 1 Nguter Kabupaten Sukoharjo”. Skripsi. Fakultas Ilmu Kesehatan UMS. Surakarta
Fitri, Nurmala. 2013. “Studi Validasi Semi-Quantitatif Food Frequency Questionnaire dengan Food Recall 24 Jam pada Asupan Zat Gizi Mikro Remaja di SMA Islam Athirah Makassar”. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas. Makassar
Satori, Tito Achmad. 2012. “Analisis Model Prediksi terhadap Kadar Seng dalam Darah Anak Balita (6-59 Bulan)”. Tesis. Fakultas Kesehatan Masyarakat UI. Depok
Kusuma, Titis Sari (Maret, 2016). Preconception Advice For Male. Dilihat 09 Juli 2019, http://titisfahreza.lecture.ub.ac.id/files/2016/03/PRECONCEPTION-ADVICE-FOR-MALE.pdf
Tandung, Katarina K, dkk. 2015. Pengaruh Pemberian Zink (Zn) terhadap Kualitas Spermatozoa Wistar Jantan Dewasa (Rattus norvegicus) yang Diberikan Monosodium Glutamat (MSG). Jurnal e-Biomedik. 3 (1) : 285-290
Larasati, Diah Ayu. 2017. Efek Protektif Pemberian Kombinasi Tomat (Solanum lycopersicum L.) dan Zink terhadap Motilitas dan Morfologi Sperma Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus L.) Galur Sprague dawley yang Diinduksi Gelombang Elektromagnetik Telepon Seluler. Skripsi. Fakultas kedokteran Unila. Bandar Lampung
Noya, Allert Benedicto I (Maret, 2018). Kriteria Sperma Sehat yang Penting Diketahui. Dilihat 09 Juli 2019, https://www.alodokter.com/kriteria-sperma-sehat-yang-penting-diketahui
Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI (Mei, 2018). Kenali Masalah Gizi yang Ancam Remaja Indonesia. Dilihat 09 Juli 2019, http://www.depkes.go.id/pdf.php?id=18051600005
Milna (Februari, 2018). 6 Makanan untuk Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh Si Kecil. Dilihat 09 Juli 2019, https://www.milna.com/id/articles/6-makanan-untuk-meningkatkan-sistem-kekebalan-tubuh-si-kecil/
Arnisam, dkk. 2013. Hubungan Asupan Mineral Zinc (Seng) dan Vitamin A dengan Kejadian Diare pada Balita di Kecamatan Seulimeum. Idea Nursing Journal. 4 (3) : 66-73
Yuniastuti, Ari. 2014. Nutrisi Mikromineral & Kesehatan. Semarang : Unnes Press
Adrian, Kevin (2019). Peran Imunitas Anak untuk Tumbuh Kembang yang Optimal. Dilihat 10 Juli 2019, https://www.alodokter.com/peran-imunitas-anak-untuk-tumbuh-kembang-yang-optimal
Satgas Remaja IDAI (September, 2013). Nutrisi pada Remaja. Dilihat 10 Juli 2019, http://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/nutrisi-pada-remaja
Sudargo, Toto, dkk. 2018. 1000 Hari Pertama Kehidupan. Bulaksumur : Gadjah Mada University Press
Nurmadilla, Nesyana dan Marisa. 2015. “Potensi Zink dalam Tatalaksana Berbagai Penyakit”. Conference Paper. Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Makassar & Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh
Syah, Muhammad N.H, dkk. 2012

Komentar